Jakarta (ANTARA) - “Batu bara akan selalu menjadi primadona ketika harga minyak meroket,” demikian pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti memandang pergerakan harga batu bara di tengah perang akibat serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.
Ketika grafik harga emas menunjukkan tren penurunan sepanjang dua bulan sejak pecahnya perang tersebut, komoditas batu bara justru menampilkan tren sebaliknya.
Harga batu bara sempat mencapai 145,86 dolar AS per ton pada pertengahan Maret 2026. Sebulan sebelumnya, harganya 115 dolar AS per ton.
Lompatan harga batu bara terjadi tepat setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap Iran, lantas kian melambung sejak Iran menutup Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok energi dunia, sekaligus menyingkap pesona sang emas hitam.
Kala keterbatasan minyak dan gas bumi memantik krisis energi dunia, kehadiran batu bara menjelma sebagai penyelamat di saat darurat. Ialah emas hitam yang menjadi primadona dunia.
Baca juga: Perang Timur Tengah dan ancaman swasembada pangan
Pilar keamanan energi
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·