PFI tetapkan arah strategis 2026 memperkuat peran penggerak nasional

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menetapkan arah strategis tahun 2026 guna memperkuat peran lembaga filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih terintegrasi.

Ketua Badan Pengurus PFI Rizal Algamar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa arah strategis ini merupakan kelanjutan dari penguatan peran PFI sebagai pusat penghubung atau philanthropy hub yang telah dibangun sepanjang tahun sebelumnya.

"Fokus ke depan tidak hanya pada memperluas kolaborasi, tetapi juga memastikan setiap inisiatif yang berkembang dapat terhubung dalam satu ekosistem sehingga menjadi aksi kolektif yang lebih terarah," kata dia dalam Rapat Umum Anggota (RUA) PFI 2026 itu.

Dia menjelaskan bahwa rencana strategis 2026 difokuskan pada tiga pilar utama, mulai dari penguatan peran PFI sebagai hub nasional untuk menyelaraskan arah gerakan.

Kemudian, pengembangan ekosistem kolaborasi melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF) dan klaster tematik guna mempercepat solusi pada isu kemiskinan, ketahanan ekonomi, dan perubahan iklim.

Sementara pilar ketiga adalah penguatan infrastruktur pengetahuan dan inovasi pendanaan sosial, termasuk pemanfaatan data serta model pembiayaan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menetapkan arah strategis tahun 2026 untuk memperkuat peran filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional dalam Rapat Umum Anggota (RUA) yang diselenggarakan di Gedung IPMI, Jakarta. (ANTARA/HO-PFI)

Menurut dia, masa depan filantropi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dihimpun, tetapi oleh kemampuan mengarahkan sumber daya tersebut menjadi dampak nyata dan berkelanjutan bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Untuk mendukung implementasi tersebut, PFI juga mengembangkan platform digital strategis yang mencakup philanthropy directory untuk basis data pemetaan aktor, serta platform impact untuk pengukuran dampak yang akuntabel.

"Selain itu, platform Learning yang ditargetkan rampung pada 2026 akan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota," kata dia, seraya menegaskan bahwa semua itu bagian komitmen PFI mendorong transformasi filantropi nasional menuju praktik yang lebih terukur, inklusif, dan berdampak luas di tengah tantangan global yang kian kompleks seperti ketimpangan ekonomi dan krisis iklim.

Sementara itu, Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A Purbasari menilai pendekatan kolaboratif yang difasilitasi PFI telah membuka peluang sinergi yang lebih luas lintas lembaga. "Kami tidak hanya belajar dari berbagai praktik baik, tetapi juga berkolaborasi lintas lembaga untuk memperkuat kapasitas dan memperluas jangkauan program,” kata dia.

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Juwaini dari Dompet Dhuafa menambahkan bahwa jejaring yang kuat terbukti meningkatkan kapasitas dan tata kelola lembaga filantropi. Dengan begitu pengalaman ini menjadi landasan bagi PFI untuk terus memperkuat pendekatan kolaboratif yang lebih terintegrasi dan berdampak pada tahun 2026.

“Kami merasakan manfaat signifikan dalam memperluas jejaring, memperkuat kolaborasi, serta meningkatkan kapasitas dan tata kelola lembaga.” kata Ahmad.

Baca juga: Menko PM tekankan peran strategis filantropi berdayakan masyarakat

Baca juga: Bukan sekadar niat baik, lembaga filantropi wajib transparan

Baca juga: Wamenlu tekankan kegiatan filantropi sebagai instrumen kohesi sosial

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.