Aplikasi investasi multi-aset Pluang resmi menyediakan akses perdagangan saham Indonesia guna mempermudah investor mengelola portofolio domestik dan global dalam satu ekosistem terpadu pada Kamis (23/4/2026). Langkah ekspansi ini dilansir dari Money untuk merespons kebutuhan pengguna yang selama ini harus menggunakan platform berbeda.
Pengguna kini dapat menjangkau lebih dari 950 saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk emiten besar seperti BBCA, BBRI, BREN, dan GOTO. Fitur baru tersebut melengkapi instrumen yang sudah tersedia sebelumnya, mulai dari saham Amerika Serikat, aset kripto, emas digital, hingga reksa dana.
Co-Founder Pluang Claudia Kolonas menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menghapus batasan antara berbagai jenis instrumen investasi yang selama ini terfragmentasi.
"Selama ini, ada jarak antara pasar modal domestik dan peluang diversifikasi global," ujar Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.
Penyatuan pengelolaan aset ini diklaim menjadi terobosan penting dalam pengembangan layanan finansial berbasis digital di kawasan regional.
"Kami hadir untuk menutup kesenjangan (close the gap) itu," kata Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.
Perusahaan menyediakan sistem portofolio terpadu agar investor dapat memindahkan dana antar-aset secara instan. Claudia menegaskan integrasi ini menjadi standar baru bagi platform finansial.
"Ini adalah standar baru bagi Super-App investasi di Asia Tenggara," tambah Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.
Pluang menawarkan insentif berupa nol persen biaya transaksi sesuai ketentuan serta bonus saham hingga Rp 300.000. Upaya ini dilakukan saat data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor (SID) tumbuh 37 persen menjadi 20 juta pada akhir 2025.
Claudia memandang lonjakan jumlah investor ritel sebagai elemen krusial bagi ketahanan industri keuangan nasional.
"Di tengah gelombang baru ini, partisipasi investor ritel akan menjadi penentu utama stabilitas pasar," ujar Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.
Infrastruktur yang inklusif dianggap sebagai kunci untuk memperluas jangkauan pasar modal ke lapisan masyarakat yang lebih luas.
"Pluang hadir untuk menjembatani partisipasi tersebut dengan menyediakan infrastruktur yang lebih inklusif," kata Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.
Bersamaan dengan perkembangan layanan privat, Bursa Efek Indonesia (BEI) memperketat evaluasi konstituen indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 melalui pengumuman resmi pada Selasa (21/4/2026). Otoritas bursa kini mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
"Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penyesuaian atas kriteria evaluasi konstituen indeks sebagai berikut," tulis BEI dalam pengumuman resminya.
Kriteria baru mengharuskan saham memiliki free float minimal 10 persen dan menjaga likuiditas perdagangan selama enam bulan terakhir. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada evaluasi mayor April 2026 dan efektif pada hari bursa pertama Mei 2026.
Sejumlah analis memprediksi emiten besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berisiko keluar dari indeks akibat aturan HSC tersebut. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar dana dari produk investasi berbasis indeks secara signifikan.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·