Institute For Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi industri baterai kendaraan listrik domestik akan memikul beban baru setelah pemerintah menghapus insentif pajak kendaraan mobil listrik pada Kamis, 23 April 2026. Kebijakan ini dinilai berisiko menghambat perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef Andry Satrio Nugroho menyatakan bahwa penarikan pajak kendaraan listrik (EV) memberikan dampak negatif bagi industri pendukung, terutama sektor baterai. Penarikan pajak ini tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 11/2026 yang menyasar seluruh jenis kendaraan listrik, mulai dari bus hingga motor.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, regulasi terbaru tersebut menetapkan bahwa kendaraan listrik kini tidak lagi dikecualikan dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Kebijakan ini menandai berakhirnya masa bebas pajak bagi pemilik kendaraan ramah lingkungan di tanah air.
“Nah ini yang kita takutkan, bahwa investasi yang masuk ke Indonesia saat ini itu bukan saja investasi di assembly-nya, kita tahu misalnya kemarin yang diresmikan juga oleh Presiden dan juga Menteri ESDM yang di Karawang itu kan untuk baterai. Sudah pasti ketika baterainya terintegrasi dengan kendaraan listrik sudah pasti itu akan terjadi,” kata Andry, Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef.
Andry menekankan bahwa daya saing baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) tetap terjaga meski permintaan baterai lithium ferro phosphate (LFP) meningkat tajam. Ia mencatat baterai LFP saat ini lebih diminati karena memiliki harga yang 30 persen lebih efisien dibandingkan tipe NMC.
“Kalau saya mengatakan memang, apakah masih ada pasar bagi NMC? NMC plus baterai. Jawabannya masih ada sebetulnya. Meskipun tantangan dari NMC itu adalah di aspek harga. Selama NMC bisa menghasilkan dari sisi harga jauh lebih kompetitif daripada LFP, saya rasa konsumen akan tetap memilih mana yang paling murah,” ucap Andry, Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef.
Pemerintah didorong untuk memperkuat implementasi NMC dan menciptakan regulasi yang mampu menekan harga produksinya agar tetap kompetitif. Andry juga menunjuk pasar internasional seperti Eropa, Rusia, dan Kanada sebagai wilayah potensial bagi ekspor baterai berbasis nikel karena ketahanannya di suhu dingin.
“[Hal] yang masih belum terlihat apakah insentif dari pemerintah bisa diarahkan kepada ekspor base production. Kalau ini bisa dilakukan, saya rasa NMC masih memiliki pasar di luar,” tegas Andry, Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef.
Lembaga riset BMI dari Fitch Solutions Company melaporkan bahwa pertumbuhan permintaan nikel global pada 2026 diprediksi melambat menjadi 3 persen. Penurunan ini dipicu oleh pergeseran produsen ke baterai nonnikel seperti LFP yang biayanya lebih rendah dan memiliki siklus hidup lebih panjang.
Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan pangsa pasar LFP secara global melonjak menjadi 50 persen pada 2024. Sebaliknya, pangsa pasar baterai berbasis nikel di pasar dunia menyusut dari 54 persen pada 2022 menjadi 46 persen pada 2024.
“Pergeseran komposisi ini kemungkinan akan menjaga sentimen pasar tetap lesu dan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makroekonomi yang lebih luas,” tulis BMI, lembaga riset Fitch Solutions Company.
Keterjangkauan harga menjadi kendala utama lambatnya adopsi kendaraan listrik di luar pasar China. Saat ini, China mendominasi penggunaan baterai LFP hingga 70 persen, yang memungkinkan mereka memproduksi kendaraan murah seperti BYD Seagull seharga kisaran US$7.800.
“Dengan memanfaatkan biaya litium yang lebih rendah dari nikel dan kobalt, produen China telah mampu menawarkan sejumlah EV entry-level yang sangat terjangkau seperti BYD Seagull yang dibanderol dengan harga sekitar CNY56.800 [sekitar US$7.800],” papar BMI, lembaga riset Fitch Solutions Company.
Laporan tersebut merinci bahwa 65 persen kendaraan listrik di China lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Sementara di Amerika Serikat dan Jerman, angka keterjangkauan tersebut masih berada di bawah angka 30 persen.
“Kami yakin bahwa peningkatan adopsi baterai LFP akan menjadi kunci untuk meningkatkan adopsi EV di pasar global,” papar BMI, lembaga riset Fitch Solutions Company.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·