Kenaikan harga LPG nonsubsidi menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (20/4). Selain itu, penemuan sumur gas raksasa oleh Eni di Kaltim. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Bahlil soal Harga LPG Nonsubsidi Naik: Menyesuaikan Harga Pasar
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkonfirmasi kenaikan harga LPG nonsubsidi sebesar 19 persen oleh PT Pertamina (Persero) efektif per 18 April 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, harga LPG nonsubsidi tidak diatur oleh pemerintah dan sepenuhnya menyesuaikan dinamika harga pasar global, mengacu pada formulasi Saudi Aramco. Kenaikan ini berlaku untuk sektor industri, hotel, dan restoran, sementara stok LPG nonsubsidi dilaporkan aman, berada di atas standar minimum nasional (10 hari).
“Jadi itu memang kita tidak atur harganya, dia menyesuaikan harga pasar. Tapi kalau harganya langka, saya pikir laporan dari kami standar minimum di atas 10 hari kok, di atas standar minimum nasional,” kata Bahlil kepada awak media usai konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Secara spesifik, harga Bright Gas 5,5 kg di wilayah DKI Jakarta dan Jawa naik menjadi Rp 107.000 per tabung, meningkat Rp 17.000 atau 18,89 persen dari harga sebelumnya Rp 90.000 pada November 2023.
Untuk Bright Gas 12 kg, harga naik Rp 36.000 menjadi Rp 228.000 per tabung, atau sekitar 18,75 persen dari Rp 192.000.
Fluktuasi harga ini juga terlihat di berbagai provinsi, dengan harga LPG 5,5 kg dan 12 kg di Aceh hingga Kepulauan Riau mencapai Rp 111.000 dan Rp 230.000, serta di Maluku dan Papua menyentuh Rp 134.000 dan Rp 285.000 per tabung.
Bahlil menegaskan, pemerintah belum pernah menaikkan harga LPG subsidi 3 kilogram sejak program tersebut diterapkan sekitar tahun 2006-2007.
Lonjakan harga yang ditemui masyarakat di lapangan, menurut Bahlil, lebih disebabkan oleh praktik permainan harga oleh oknum distributor dan pangkalan. Untuk kategori LPG 3 kilogram, stok nasional tetap aman dan harganya flat atau tidak mengalami kenaikan.
Eni Temukan Sumur Gas Raksasa di Kaltim, Potensi Cadangan 5 Triliun Kaki Kubik
Perusahaan energi asal Italia, Eni, mengumumkan penemuan cadangan gas signifikan melalui sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, sekitar 70 kilometer dari lepas pantai Kalimantan Timur.
Penemuan ini diperkirakan memiliki potensi sumber daya sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan sumur ini dapat mulai berproduksi pada 2028, dengan potensi produksi kondensat awal 90 ribu barel yang diharapkan meningkat menjadi 150 ribu barel pada 2029-2030.
Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman laut 2.000 meter, menunjukkan lapisan gas tebal dengan kualitas reservoir sangat baik.
Penemuan ini melanjutkan rangkaian eksplorasi Eni yang berhasil, termasuk ladang gas Geng North pada 2023 dan sumur Konta-1 pada akhir 2025. Lokasi Geliga-1 yang berdekatan dengan temuan gas Gula (potensi 2 Tcf) strategis untuk integrasi dengan proyek Indonesia Deepwater (IDD) yang sedang berjalan, seperti Gendalo dan Gandang (South Hub) serta Geng North dan Gehem (North Hub).
Integrasi dengan infrastruktur eksisting seperti fasilitas produksi terapung (FPSO) berkapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari yang terhubung dengan kilang LNG Bontang, membuka peluang percepatan produksi yang efisien.
Jika digabungkan dengan lapangan Gula, kedua temuan tersebut diperkirakan mampu menambah produksi hingga 1 miliar kaki kubik gas per hari dan sekitar 80.000 barel kondensat per hari.
Total cadangan dari kedua blok ini mencapai 7 Tcf gas dan 375 juta barel kondensat, mendukung target pemerintah untuk mencapai produksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030. Blok Ganal dioperasikan oleh Eni dengan kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen sisanya dimiliki oleh Sinopec.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·