Prabowo Subianto Bahas Kerja Sama Energi Nuklir dengan Rosatom Rusia

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan strategis dengan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (12/5/2026). Pertemuan tersebut membahas peta jalan kerja sama pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai guna memperkuat ketahanan energi nasional Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, pembicaraan ini mencakup spektrum luas mulai dari pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), pelatihan tenaga kerja ahli, hingga penerapan teknologi nuklir di sektor non-energi. Pemerintah Indonesia menargetkan integrasi energi nuklir ke dalam jaringan listrik nasional dengan mempertimbangkan kondisi geografis wilayah kepulauan.

Pihak Rusia menyatakan komitmennya untuk mendukung ambisi Indonesia melalui pendekatan teknologi yang komprehensif. Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menekankan pentingnya kepercayaan dalam dialog bilateral ini.

"Sangat penting bagi kami bahwa dialog antara Rusia dan Indonesia di bidang nuklir berkembang dalam suasana saling percaya dan menghormati. Saat ini, Indonesia telah menetapkan tujuan yang ambisius untuk pengembangan energi nuklir," ujar Alexey Likhachev, Direktur Jenderal Rosatom.

Rosatom menawarkan berbagai solusi teknis yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal, termasuk reaktor skala besar maupun unit pembangkit listrik terapung. Selain aspek teknis, perusahaan negara asal Rusia tersebut juga menyoroti penguatan kedaulatan teknologi Indonesia melalui transfer kompetensi baru.

"Rosatom tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga pembentukan kemitraan jangka panjang yang berfokus pada pengembangan industri baru bagi Indonesia, pelatihan personel nasional, munculnya kompetensi baru, dan penguatan kedaulatan teknologi negara," tutur Alexey Likhachev, Direktur Jenderal Rosatom.

Hubungan diplomatik kedua negara di sektor atom ini telah memasuki usia dua dekade sejak penandatanganan perjanjian awal pada Desember 2006. Sebelum bertemu Presiden, delegasi Rosatom juga telah melakukan koordinasi teknis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyusun langkah konkret untuk mempercepat transisi energi melalui penjajakan kolaborasi infrastruktur nuklir. Penjajakan ini diharapkan mampu menghadirkan stabilitas pasokan listrik bersih di masa depan.

"Diskusi kami dengan Rosatom bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya menjajaki langkah-langkah nyata untuk menghadirkan energi masa depan yang stabil dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Arif Satria, Kepala BRIN.

Arif menambahkan bahwa pengalaman Rusia dalam mengelola energi nuklir global merupakan peluang strategis bagi pengembangan kapasitas riset lokal. Fokus utama kemitraan ini adalah menciptakan ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan.

"Kita ingin memperkuat kapasitas riset dan inovasi lokal agar ekosistem nuklir kita nanti tidak hanya aman dan andal, tetapi juga berkelanjutan karena dikelola oleh talenta-talenta terbaik negeri sendiri," kata Arif Satria, Kepala BRIN.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak bersifat transaksional melainkan berorientasi pada kemajuan riset menyeluruh. Skema transfer teknologi menjadi syarat utama dalam setiap tahap kerja sama fisik ke depan.

"Fokus kami adalah kolaborasi yang komprehensif. Jadi, ini bukan sekadar beli teknologi, tapi kita dorong adanya transfer teknologi yang masif," pungkas Arif Satria, Kepala BRIN.