Seekor sapi ras simental berukuran jumbo menjadi pusat perhatian di Kota Pekanbaru menjelang peringatan Idul Adha 1447 Hijriah. Hewan ternak tersebut telah ditetapkan sebagai sapi kurban milik Presiden RI yang akan disalurkan bagi masyarakat setempat.
Dikutip dari Cahaya, sapi yang diberi nama Manggala ini memiliki bobot fantastis mencapai 907 kilogram dengan tinggi badan sekitar 140 sentimeter. Saat ini, Manggala berada dalam pengawasan ketat di kandang peternakan kawasan Umban Sari, Kecamatan Rumbai.
Pengelola Wong Cilik Farm, Ari Nanu, menjelaskan bahwa Manggala merupakan salah satu sapi terberat di antara koleksi lainnya. Sapi berusia enam tahun tersebut didatangkan langsung dari Medan untuk menjalani perawatan intensif di Pekanbaru.
"Berat, memang berat bobotnya, karena yang lain juga hampir satu ton," ungkap Ari Nanu kepada media pada Kamis, 30 April 2026.
Demi menjaga kualitas dan kesehatan hewan kurban kepala negara tersebut, pihak pengelola menerapkan standar perawatan 24 jam. Hal ini dilakukan guna memastikan kondisi fisik Manggala tetap prima hingga hari penyembelihan tiba.
"Apalagi sudah terpilih menjadi sapi kurban Presiden RI bagi warga di Kota Pekanbaru, maka kita jaga selama 24 jam," ujar Ari.
Manggala mendapatkan asupan pakan berkualitas tinggi, mulai dari rumput alami hingga pakan tambahan khusus. Salah satu nutrisi tambahan yang diberikan secara rutin adalah bungkil sawit yang diberikan satu kali dalam sehari.
"Ada juga pakan tambahan, kita pakai bungkil sawit, itu kita kasi sekali saja sehari," jelas Ari.
Proses seleksi Manggala sebagai hewan kurban kepresidenan dilakukan melalui prosedur yang sangat ketat. Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Distankan Pekanbaru, drh. Rita Setyawati, menyebut sebelumnya terdapat tiga kandidat sapi.
Pemeriksaan kesehatan menyeluruh telah dilakukan untuk menjamin kelayakan hewan tersebut. Selain pengecekan fisik secara langsung, tim medis juga melakukan pengujian laboratorium guna mendeteksi keberadaan parasit atau penyakit lainnya.
"Semua pemeriksaan kesehatan sudah kita lakukan, seperti pemeriksaan fisik," kata Rita Setyawati.
Langkah preventif juga melibatkan tim LPKH Provinsi Riau untuk memastikan Manggala bebas dari cacing. Rita menegaskan pentingnya sterilisasi area kandang agar tidak ada hewan luar yang masuk dan berpotensi menularkan bibit penyakit.
"Sampai hari pemotongan, bisa dijaga kesehatannya, jangan sampai sapi luar masuk, karena berbahya dan bisa menularkan penyakit," ulas Rita.
Peternak diinstruksikan untuk melakukan disinfeksi secara berkala di lingkungan kandang. Dinas terkait terus memantau ketersediaan pakan serta perkembangan kesehatan sapi secara ekstensif hingga jadwal pengantaran ke lokasi pemotongan.
"Pengawasan kami saat ini ya itu, mempehatian kesehatan sapi dengan melalui peternak, agar ekstensif memperhatikan kesehatan sapi," tutur Rita.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·