Prancis: Operasi militer Israel di Lebanon sangat mengkhawatirkan

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Birmingham (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyebut operasi militer Israel di Lebanon “sangat mengkhawatirkan" dan karenanya, Paris telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi tersebut.

"Tidak ada yang dapat membenarkan operasi militer yang berkepanjangan di Lebanon dan pendudukan wilayah Lebanon yang semakin dalam," kata Barrot kepada BFMTV, Minggu.

Ia menegaskan bahwa tindakan Israel sama dengan "kesalahan besar."

Komentar tersebut menunjukkan besarnya kekhawatiran Prancis atas meningkatnya ketegangan regional karena Israel terus melakukan aktivitas militer di luar perbatasannya dengan Lebanon.

Barrot juga mendesak Iran dan Amerika Serikat untuk segera mencapai kesepakatan untuk mengurangi ketegangan di Timur Tengah.

“Konsekuensi dari penutupan Selat Hormuz dirasakan setiap hari, di pompa bensin, dan secara lebih umum lewat dampaknya pada ekonomi global dan ekonomi Prancis,” katanya.

Menlu Prancis itu menambahkan bahwa rencana untuk misi yang bertujuan untuk menjaga kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz masih dipertimbangkan, dengan perencanaan yang semakin maju dan negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Tentara Israel mengumumkan Minggu bahwa mereka telah melancarkan serangan "skala besar" di Beaufort Ridge dan daerah Wadi al-Salouqi (Saluki) di Lebanon selatan.

Juru bicara militer Israel Ella Waweya mengklaim langkah itu bertujuan untuk "menghancurkan infrastruktur teroris dan melenyapkan militan."

Invasi Israel ini adalah yang terdalam di Lebanon sejak Israel menarik pasukannya dari negara itu pada 2000.

Menteri Kebudayaan Lebanon Ghassan Salameh menuduh tentara Israel sengaja menargetkan Kastil Beaufort, yang diyakini rusak parah akibat serangan.

Serangan Israel juga menghancurkan pasar komersial bersejarah yang penting, perpustakaan umum, dan situs arkeologi di distrik Bint Jbeil dan Nabatieh, serta beberapa situs lain di Lebanon selatan, katanya kepada kantor berita Al-Qahera milik pemerintah Mesir.

“Lebanon selatan berisiko kehilangan sebagian dari memori sejarah dan budayanya jika serangan terhadap situs arkeologi terus berlanjut,” kata Salameh memperingatkan.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Kastel Beaufort di Lebanon selatan dicaplok Israel

Baca juga: Lebanon tetap bela kedaulatan dalam pembicaraan dengan Israel

Penerjemah: Yashinta Difa
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.