Preeklamsia: Silent Killer pada Ibu Hamil

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi hipertensi saat hamil atau preeklamsia. Foto: Shutter Stock

Kehamilan seharusnya menjadi masa yang penuh kebahagiaan bagi calon ibu dan keluarga. Namun di balik proses tersebut, ada kondisi serius yang masih menjadi ancaman nyata bagi banyak ibu hamil di Indonesia, yaitu preeklamsia.

Setiap 22 Mei diperingati sebagai Hari Preeklamsia Sedunia, momen ini untuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi kehamilan yang kerap datang tanpa gejala jelas di awal. Padahal, bila terlambat dikenali dan ditangani, preeklamsia bisa membahayakan nyawa ibu maupun bayi.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan tahun 2024, sebanyak 988 ibu meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia. Hingga kini, kondisi tersebut masih menjadi penyebab kematian ibu terbanyak kedua di Indonesia.

Preeklamsia Sering Disalahartikan sebagai Keluhan Hamil Biasa

Ilustrasi janin atau bayi di dalam kandungan. Foto: Shutterstock

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan gangguan organ, biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Sayangnya, gejalanya kerap mirip dengan keluhan umum selama hamil sehingga sering tidak disadari.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain

  • Sakit kepala hebat yang tidak kunjung hilang

  • Pandangan kabur

  • Sensitif terhadap cahaya

  • Pembengkakan berlebihan pada wajah dan tangan

  • Nyeri ulu hati

  • Kenaikan berat badan mendadak

  • Sesak napas.

Jika tidak segera ditangani, preeklamsia dapat berkembang cepat dan memicu komplikasi serius seperti

  • Kejang (eklamsia)

  • Kelahiran prematur

  • Gangguan pertumbuhan janin

  • Kerusakan organ pada ibu.

Karena itu, ibu hamil dianjurkan untuk tidak menunda pemeriksaan ketika merasakan gejala yang tidak biasa.

Waspada juga, Moms, karena risiko preeklamsia diketahui lebih tinggi pada ibu yang menjalani kehamilan pertama, memiliki riwayat hipertensi atau diabetes, hamil kembar, mengalami obesitas, atau pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.

Selain itu, kehamilan di usia terlalu muda maupun di atas 35 tahun juga dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia.

Cara Menekan Risiko Preeklamsia

Gejala preeklamsia saat hamil. Foto: Shutter Stock

Menurut dokter spesialis kandungan dan kebidanan dr. Andrew Christian Yurius, Sp.OG Meski tidak semua kasus bisa dicegah, risiko preeklamsia dapat ditekan dengan cara menjaga berat badan ideal, menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga sesuai anjuran dokter.

"Pemeriksaan kehamilan secara rutin sejak awal juga penting dilakukan agar kondisi ibu dan janin dapat terus dipantau. Selain itu, konsumsi suplemen seperti kalsium dan vitamin D3 dapat diberikan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan," kata dr. Andrew.

Menjawab hal ini, Kementerian Kesehatan mulai memperkuat deteksi dini preeklamsia melalui inovasi berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI).

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu tenaga kesehatan mengenali risiko preeklamsia lebih cepat, mulai dari pemantauan tekanan darah hingga analisis faktor risiko pada ibu hamil.

Lewat langkah ini, pemerintah menargetkan angka kematian ibu turun menjadi 40 per 100 ribu kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan, Moms.