Presiden Prabowo Subianto Pastikan Ekonomi Nasional Kuat Hadapi Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga dengan pasokan pangan dan energi yang aman di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026).

Kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih aman dan tidak terpengaruh kepanikan global karena sebagian besar masyarakat di daerah pedesaan tidak bergantung pada mata uang asing tersebut. Dilansir dari Money, nilai tukar rupiah di pasar spot sebelumnya ditutup melemah 0,39 persen ke level Rp 17.597 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Prabowo Subianto menepis kekhawatiran mengenai potensi krisis di dalam negeri akibat dinamika kurs yang fluktuatif.

"Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkap Prabowo Subianto.

Menurut Kepala Negara, situasi dalam negeri justru jauh lebih kondusif dibandingkan dengan negara-negara lain yang menghadapi tekanan ekonomi global serupa.

"Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap Prabowo Subianto.

Dampak dari penurunan nilai tukar rupiah ini disebut lebih menyasar kelompok masyarakat yang sering melakukan aktivitas finansial di luar negeri.

"Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa tidak pakai dollar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini?" ungkap Prabowo Subianto.

Ia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk tetap optimistis terhadap ketahanan perekonomian domestik.

"Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau ngomong apa. Indonesia kuat, percaya pada kekuatan kita," tambah Prabowo Subianto.

Faktor eksternal dan domestik menjadi pendorong utama merosotnya performa mata uang Garuda di pasar finansial. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya suku bunga global ikut memperkuat posisi dollar AS.

"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim Assuaibi.