Profil Dudung Abdurachman, KSP baru pengganti Qodari

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan Muhammad Qodari.

Pengangkatan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 52 P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Staf Kepresidenan dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.

Dudung menempati jabatan tersebut setelah sebelumnya mengemban posisi sebagai penasihat presiden Prabowo Subianto, persisnya Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional.

Baca juga: Dudung Abdurachman resmi dilantik jadi Kepala Staf Kepresidenan

Dudung memang bukan orang baru di dunia TNI. Selama berdinas di TNI AD, Dudung pernah menempati jabatan-jabatan strategis di lingkungan TNI AD mulai dari Pangdam Jayakarta, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad), hingga Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

Perjalanan karir Dudung dimulai ketika dirinya lulus Akademi Militer (Akmil) pada 1988. Pria kelahiran 19 November, 1965 di Bandung, Jawa Barat itu langsung masuk dalam Korps Infanteri TNI AD.

Semasa mudanya, Dudung menjabat sebagai pemimpin pleton sejak 1989 sampai 1994 di Batalyon Yonif Raider Khusus 744/Satya Yudha Bakti yang bermarkas di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Yonif Raider Khusus 744/ Satya Yudha Bakti juga menjadi tempat dinas mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Karier Dudung terus menanjak menjadi komandan kompi (1995), komandan kelas satuan pendidikan di Pusat Kesenjataan Infanteri TNI AD (1995–1998).

Usai bertugas di Yonif Raider Khusus 744/ Satya Yudha Bakti, Dudung mendapat promosi mengisi posisi sebagai Wakil Komandan (Wadan) Yonif 401/Alugoro (1998–1999), Wadan Yonif 401/Banteng Raider (1999–2000), Kepala Staf Kodim 0733/BS Semarang (2000–2002), dan perwira senior bidang operasi di lingkungan Kodam II/Sriwijaya (2002).

Baca juga: Reshuffle kabinet, Dudung, Jumhur, hingga Hasan Nasbi tiba di Istana

Karirnya semakin melejit ketika dirinya naik pangkat sebagai letnan kolonel dan dipercaya menjabat sebagai Komandan Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya (2002–2004), Dandim 0406/Musi Rawas (2004–2006), dan Dandim 0418/Palembang.

Setelah naik pangkat menjadi kolonel dan menempati beberapa jabatan di Mabes TNI, Dudung akhirnya pecah bintang ketika menjabat sebagai Wakil Gubernur Akmil (2015–2016). Setelah itu, Dudung dipercaya menjadi staf khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat (2016–2017), dan Wakil Asisten Teritorial KSAD (2017–2018).

Dudung kembali mendapat promosi dan naik pangkat menjadi mayor jenderal saat mengisi posisi Gubernur Akmil (2018–2020), kemudian dia lanjut memimpin wilayah saat menjadi Pangdam Jaya (2020–2021).

Saat menjabat Pangdam Jaya, Dudung sempat mengundang perhatian masyarakat karena beberapa langkah kontroversialnya. Salah satunya yakni mencopot baliho-baliho yang dipasang Front Pembela Islam (FPI).

Selesai menjabat sebagai Pangdam Jaya, Dudung dipromosikan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad) Ke-42 menggantikan Letjen TNI Eko Margiyono pada 2021.

Namun demikian, Dudung tidak sampai satu tahun menjabat sebagai Pangkostrad. Di tahun yang sama, Joko Widodo yang kala itu menjabat sebagai presiden menunjuk Dudung menjadi KSAD. Dudung pun akhirnya menjabat sebagai KSAD selama satu tahun lebih 342 hari — sampai pensiun pada 19 November 2023.

Baca juga: Seskab: Prabowo dan Dudung bahas pertahanan di tengah dinamika global

Pewarta: Walda Marison
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.