Pengamat politik Dr. Selamat Ginting menyatakan keheranannya ketika Presiden Prabowo Subianto masih merangkul kedua orang tersebut.
“Publik kan menganggap bahwa ini salah satu kelemahan (pemerintah) ada di Qodari dan Hasan Nasbi. Tapi pertanyaan yang penting adalah mengapa dia direkrut kembali? Kan begitu,” kata Selamat dalam podcast Madilog dikutip pada kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis malam, 14 Mei 2026.
Lanjut akademisi Universitas Nasional (Unas) tersebut, Hasan Nasbi dan Qodari bisa disebut sebagai produk reject yang melekat pada era pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Selamat lantas berargumen bahwa pertimbangan Prabowo merekrut keduanya kembali lebih bersifat politis daripada sekedar teknis komunikasi.
“Saya melihatnya begini, mereka (Hasan Nasbi dan Qodari) dianggap memahami peta opini publik. Hasan Nasbi dan Qodari itu berasal dari dunia survei dan opini publik. Dua-duanya main di situ. Nah, dalam politik modern, kemampuan membaca persepsi masyarakat sering dianggap sama pentingnya dengan kemampuan membuat kebijakan. Ini yang membuat keduanya masih dipakai oleh Prabowo,” jelasnya.
Selanjutnya, Selamat menyoroti langkah Bakom pemerintah yang baru-baru ini mengundang 40 new media.
“Nah ini memang menarik soal pertemuan badan komunikasi pemerintah dengan new media yang kemudian sekarang dikritik, ini pemerintah apa sedang membangun buzzer-buzzer baru karena ini dianggap homeless,” tegasnya.
“Jadi memang harus ada penjelasan detail, jangan sampai ada kesan pemerintah itu menghidupkan buzzer untuk melawan oposisi,” pungkas Selamat.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·