Ada pertanyaan yang sudah lama aku simpan, bukan karena aku tidak tahu jawabannya, tapi justru karena aku tahu terlalu baik. Pertanyaan itu sederhana, tapi setiap kali ia muncul di kepalaku, dadaku terasa berat seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tidak tahu caranya.
Kalau nenek sudah tidak ada, aku pulang ke mana?
Pulang ke rumah orang tua? Ke gedung itu, dengan dua orang di dalamnya yang darahnya mengalir juga di nadiku, tapi terasa seperti orang asing yang kebetulan berbagi alamat denganku? Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka rasanya seperti mendaki tebing tanpa tali. Setiap kali mereka mengajak bicara, ada sesuatu yang menyala di dalam dadaku, bukan kehangatan, tapi semacam api kecil yang tidak aku minta, tidak aku inginkan, tapi selalu ada. Marah. Aku selalu marah. Dan yang paling membingungkan adalah aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa.
Tapi mungkin inilah saatnya aku mencoba memahaminya.
Masa Kecil yang Belajar Diam
Aku tidak pernah mengalami fase tantrum. Di usia ketika anak-anak lain menangis kencang di lantai supermarket atau merengek minta digendong, aku sudah belajar satu pelajaran paling berat dalam hidupku: bahwa kebutuhanku tidak selalu akan dijawab, dan lebih baik tidak berharap terlalu banyak.
Ketika aku masih kecil, orang tuaku memutuskan untuk memiliki anak lagi. Aku tidak tahu persisnya berapa usiaku waktu itu, tapi aku ingat bagaimana perhatian yang sudah tidak banyak itu kemudian terbagi lagi. Hari-hariku sebagian besar dihabiskan bersama mbak, pengasuh yang datang dan pergi, yang menjaga tubuhku tetap bersih dan perutku tetap terisi, tapi yang tidak pernah bisa menggantikan satu hal: rasa aman bahwa ada seseorang yang benar-benar ingin tahu siapa aku.
Saat sakit, aku tidak menangis. Bukan karena tidak sakit, tapi karena aku sudah tahu menangis tidak akan membuat seseorang lebih cepat datang. Saat dijahati teman, aku diam. Saat disalahpahami, aku menerimanya. Bukan karena ikhlas, tapi karena tidak ada yang mengajariku bahwa perasaanku layak untuk dibela, bahkan oleh diriku sendiri.
Aku tumbuh tanpa pernah benar-benar belajar mengenal diriku sendiri. Tidak ada yang duduk di sebelahku dan bertanya,“Kamu sedang merasakan apa?”
Tidak ada yang mengajari bahwa emosi bukan musuh yang harus disembunyikan, melainkan bahasa yang perlu dipelajari. Maka aku tumbuh dalam senyap, rapi di luar, tapi sepi di dalam, dengan segudang perasaan yang tidak punya nama dan tidak punya tempat untuk pergi.
Nenek, Satu-Satunya yang Terasa Seperti Rumah
Di tengah semua itu, ada nenek.
Aku tidak tahu apakah nenek sadar bahwa ia sedang menyelamatkan sesuatu dalam diriku. Mungkin tidak. Nenek hanya melakukan apa yang ia tahu: memasakkan makanan kesukaanku, bertanya bagaimana hariku, duduk di sebelahku tanpa perlu alasan. Ia tidak pernah menggunakan kata “quality time” atau “emotional availability”, tapi ia melakukannya setiap hari, dengan konsisten, dengan hangat, tanpa syarat.
Di rumah nenek, aku bisa bernapas. Di sana aku tidak perlu menjadi anak yang tidak terlihat. Di sana aku cukup hadir, dan kehadiranku sudah dianggap berharga.
Maka ketika liburan tiba, tidak perlu ada perdebatan panjang di kepalaku. Aku selalu memilih pergi ke rumah nenek. Bukan untuk memberontak. Bukan untuk menyakiti orang tua. Tapi karena tubuhku sudah tahu ke mana seharusnya ia pulang, bahkan ketika pikiranku belum bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
Pertanyaan yang Membuat Lidah Kelu
Hal yang tidak pernah diantisipasi oleh anak-anak seperti aku adalah betapa sederhana dan betapa menyakitkannya pertanyaan orang lain.
“Orang tuamu mana?”
Setiap kali kalimat itu datang, dari mulut teman, kerabat, atau bahkan orang yang baru kukenal, ada sesuatu yang seketika membeku di dalam diriku. Lidah dan hatiku sama-sama kelu. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya secara faktual. Tapi karena jawaban yang jujur terlalu panjang, terlalu berat, dan terlalu mustahil untuk diringkas menjadi satu kalimat yang sopan di tengah percakapan biasa.
Aku tidak bisa menjawab “orang tuaku di rumah” dengan nada yang sama seperti orang lain mengatakannya, karena “rumah” dan “orang tua” dalam hidupku tidak pernah benar-benar berada dalam satu kalimat yang nyaman.
“Kamu tidak sayang orang tuamu ya?”
Kali ini bukan hanya lidahku yang kelu. Dadaku ikut terasa sesak. Karena pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, ia adalah tuduhan yang dibungkus tanda tanya. Ia mengasumsikan bahwa ada sesuatu yang salah denganku, bahwa jarakku dengan orang tua adalah bukti dari kekurangan karakterku, bukan akumulasi dari bertahun-tahun kekosongan yang tidak pernah aku pilih.
Aku ingin menjawab, tapi kata-kata tidak datang. Bukan karena aku tidak punya sesuatu untuk dikatakan, justru sebaliknya. Ada terlalu banyak yang ingin aku katakan hingga semuanya saling menumpuk di kerongkongan dan tidak ada satupun yang berhasil keluar dengan utuh.
Sehingga yang tersisa hanya senyum tipis, atau jawaban pendek yang tidak menjawab apa-apa, atau diam yang kemudian disalahpahami sebagai ketidakpedulian.
Inilah yang tidak pernah dipahami oleh orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang utuh secara emosional: bahwa bagi sebagian dari kami, pertanyaan tentang orang tua bukan percakapan ringan. Ia adalah pintu menuju ruangan yang selama bertahun-tahun kita kunci rapat-rapat karena kita tidak tahu harus berbuat apa dengan apa yang ada di dalamnya.
Dewasa dan Amarah yang Tidak Punya Nama
Bertumbuh dewasa seharusnya membawa pemahaman. Tapi bagi anak-anak yang tumbuh seperti aku, kedewasaan justru menghadirkan lapisan kebingungan baru.
Aku tidak bisa berbicara dengan orang tuaku. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena setiap kali mereka mulai mengajak bicara, ada sesuatu yang bangkit dari dalam dadaku. Sesuatu yang panas dan tidak nyaman. Kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar ketus, bahkan sebelum aku sempat memilihnya. Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak ingin menjadi anak yang dingin kepada orang tuanya sendiri. Tapi ada sesuatu yang marah di dalam diriku, dan ia datang sebelum aku sempat berpikir.
Orang tuaku menyebut ini kedurhakaan. Tapi aku tahu, atau setidaknya pelan-pelan mulai menyadari, bahwa yang mereka lihat sebagai penolakan sebenarnya adalah luka lama yang tidak pernah sempat disembuhkan. Amarah itu bukan tentang percakapan hari ini. Ia adalah akumulasi dari semua hari ketika aku diam, ketika aku menelan sendiri apa yang seharusnya didengar seseorang, ketika aku belajar bahwa kebutuhanku tidak cukup penting untuk disuarakan.
Psikolog klinis Pete Walker, dalam bukunya Complex PTSD: From Surviving to Thriving (2013), menjelaskan bahwa salah satu respons paling umum dari anak-anak yang mengalami pengabaian emosional kronis adalah apa yang ia sebut sebagai fawn response di masa kecil, patuh, diam, tidak menuntut, lalu bergeser menjadi fight response di masa dewasa. Anak yang dulu sangat pendiam dan penurut, ketika dewasa bisa tiba-tiba tampak marah, dingin, atau sulit didekati. Bukan karena karakternya berubah. Tapi karena luka yang terlalu lama diredam akhirnya mencari jalan keluar, dan jalan keluar yang paling mudah ditemukan adalah amarah kepada orang yang paling dekat secara fisik, meski paling jauh secara emosional.
Itulah yang terjadi padaku setiap kali orang tuaku mengajak bicara. Api kecil di dadaku bukan tanda bahwa aku membenci mereka. Ia adalah suara dari anak kecil di dalam diriku yang masih menunggu untuk didengar, dan tidak tahu cara lain untuk mengatakannya.
Ketika Rumah Satu-Satunya Mulai Menua
Dan kemudian datanglah ketakutan yang paling sunyi dari semuanya.
Nenek semakin menua. Rambutnya sudah putih sepenuhnya. Langkahnya lebih pelan. Suaranya kadang terdengar lelah dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Dan di setiap kunjungan, di sudut pikiranku yang paling dalam, selalu ada pertanyaan yang sama menyelinap masuk tanpa diundang.
Kalau suatu hari ia pergi, aku pulang ke mana?
Rumah orang tua ada di sana secara fisik. Tapi rumah bukan soal bangunan. Rumah adalah tempat di mana kamu bisa melepas topeng, di mana kamu tidak perlu menjelaskan dirimu, di mana kehadiranmu saja sudah cukup. Dalam definisi itu, aku tidak punya rumah lain selain nenek.
Psikolog John Bowlby menyebutnya secure base, sebuah figur yang membuat seseorang merasa cukup aman untuk menjelajahi dunia dan cukup aman untuk pulang. Bagi kebanyakan orang, secure base itu adalah orang tua. Bagiku, ia adalah nenek. Dan ketika seseorang tumbuh dengan hanya satu secure base, kehilangan figur itu bukan sekadar kehilangan orang yang dicintai. Ia adalah kehilangan satu-satunya peta yang selama ini menunjukkan ke mana arah pulang.
Melihat orang-orang yang begitu dekat dengan orang tuanya selalu menghadirkan perasaan yang sulit kujelaskan. Bukan iri yang sederhana. Tapi semacam duka diam, kehilangan atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku miliki, sehingga aku bahkan tidak tahu persis apa yang aku rindukan.
Fenomena ini bukan hanya kisah personalku. Di Indonesia dan di banyak masyarakat kolektif lainnya, pengasuhan oleh nenek atau anggota keluarga besar adalah sesuatu yang lumrah secara kultural, namun nyaris tidak pernah dibicarakan secara serius dalam konteks dampak psikologisnya.
Sosiolog Arlie Hochschild dalam The Second Shift (1989) menunjukkan bahwa tekanan ganda pada orang tua modern, antara kebutuhan ekonomi dan pengasuhan, hampir selalu menciptakan kekosongan emosional yang tidak bisa diisi oleh niat baik semata. Ketika kekosongan itu diisi oleh figur lain seperti nenek, hasilnya bisa sangat positif bagi anak dalam jangka pendek. Namun yang jarang dibicarakan adalah apa yang terjadi ketika anak itu dewasa, ketika ia harus bernegosiasi antara rasa asing terhadap orang tua kandungnya dan rasa ketergantungan yang dalam kepada figur alternatifnya, lalu figur alternatif itu mulai menua.
Daniel Siegel, psikiater dari UCLA, menulis bahwa “the brain is a social organ, it is built through experience.” Otak yang tumbuh tanpa cukup pengalaman direspons, divalidasi, dan benar-benar dilihat, akan membangun arsitektur yang berbeda. Lebih waspada, lebih tertutup, lebih kesulitan mempercayai orang lain, termasuk orang-orang yang secara biologis paling dekat dengannya.
Ini bukan soal anak yang tidak tahu berterima kasih. Ini soal sistem pengasuhan yang gagal bekerja, dan seorang anak yang kemudian tumbuh menanggung semua konsekuensinya sendiri, dalam diam, tanpa tahu bahwa pengalamannya punya nama dan penjelasan.
Aku tidak menulis ini untuk menghakimi orang tuaku. Aku menulis ini karena terlalu lama aku tidak tahu bahwa pengalamanku punya kerangka, punya penjelasan yang lebih dalam dari sekadar “kamu anak yang tidak tahu terima kasih” atau “kamu durhaka.”
Aku menulis ini untuk semua orang yang pernah kelu ketika ditanya di mana orang tuanya. Yang tidak tahu harus menjawab apa ketika seseorang bertanya apakah mereka menyayangi ibu dan ayahnya, bukan karena jawabannya tidak ada, tapi karena jawabannya terlalu dalam untuk muat dalam satu percakapan ringan.
Seperti kata Gabor Maté, “The question is never what is wrong with you? but always what happened to you?” Amarah yang muncul di dadamu setiap kali orang tuamu mengajak bicara bukan bukti bahwa kamu rusak. Ia adalah suara dari masa lalumu yang masih ingin didengar. Ia adalah anak kecil yang dulu belajar diam, yang kini mencoba, dengan cara yang canggung dan tidak sempurna, untuk akhirnya bersuara.
Dan mungkin, langkah pertama untuk pulang ke dirimu sendiri adalah dengan mulai mendengarkan suara itu, bukan menelannya lagi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·