Pupuk Kaltim Lakukan Efisiensi di Tengah Lonjakan Harga Plastik Imbas Perang

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, dalam Silaturahmi Media Pupuk Kaltim di GIOI Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melakukan efisiensi di tengah eskalasi perang di Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Iran, dan Israel. Ditutupnya jalur Selat Hormuz menimbulkan kenaikan harga bahan baku, terutama plastik untuk kebutuhan kemasan pupuk.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, menyatakan perusahaan melaksanakan suatu program efisiensi di mana fungsi-fungsi operasional hingga tata kelola dipastikan terlaksana dengan baik di tengah dinamika global.

“Mungkin sama ya dengan adanya dinamika global saat ini ya, PKT punya program Operational Excellence. Jadi bagaimana kita memastikan fungsi-fungsi operasional itu dijalankan dengan baik, tata kelola benar, dan dengan manajemen risiko yang kuat,” kata Anggono dalam Silaturahmi Media Pupuk Kaltim di GIOI Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/4).

Melalui program efisiensi ini, Anggono mengatakan perusahaan berupaya memitigasi dampak kenaikan biaya-biaya sehingga secara keseluruhan tidak memengaruhi keberlangsungan bisnis Pupuk Kaltim.

Pekerja mengoperasikan alat berat menata pupuk di gudang penyimpanan pupuk Distribution Center, Medan, Sumatera Utara, Kamis (2/1/2025). Foto: Yudi Manar/Antara Foto

“Jadi poinnya ada kenaikan (biaya) tapi kita coba efisiensi di lain Hal, sehingga secara keseluruhan itu tidak berdampak terhadap bisnis PKT,” tutur Anggono.

Selain itu, Pupuk Kaltim melakukan peremajaan pabrik atau revamping. Melalui langkah ini, Anggono berharap pabrik dapat menjadi lebih efisien, dengan potensi penurunan konsumsi gas sebesar 4 MMBTU.

“Nah, pendanaan revamping ini sendiri murni menggunakan biaya internal perusahaan, melalui investasi tahunan,” ucap Anggono.

Harga plastik di Indonesia melonjak tajam pada April 2026, dengan kenaikan mencapai 50-100 persen. Lonjakan ini dipicu gangguan pasokan nafta akibat perang di Iran.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelaku UMKM dan pedagang, terutama akibat naiknya biaya kemasan. Pemerintah kini didorong untuk mencari alternatif sumber pasokan sekaligus mempercepat substitusi bahan baku guna menekan dampak lanjutan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso pun menjelaskan Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan Timur Tengah.