Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan penanganan kecelakaan yang melibatkan KRL dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, dilakukan secara terpadu dan melibatkan semua pihak guna menjamin efektivitas respons di lapangan.
"Pemerintah juga memastikan agar penanganan dilakukan secara terpadu oleh Kementerian Perhubungan, PT KAI dan seluruh pihak terkait," kata Qodari di Jakarta, Selasa.
Qodari menyampaikan duka cita mendalam atas musibah kecelakaan yang terjadi pada Senin (27/4) malam tersebut.
Dia menegaskan pemerintah turut berbelasungkawa kepada seluruh keluarga korban serta memastikan doa dan perhatian diberikan kepada para korban luka agar segera pulih.
Kepala Bakom menjelaskan sejak awal kejadian, pemerintah memantau langsung situasi di lapangan dan mencatat adanya respons cepat dari PT Kereta Api Indonesia bersama Kementerian Perhubungan dalam melakukan evakuasi serta penanganan korban secara sigap dan terkoordinasi.
"Sejak awal kejadian kita saksikan bahwa PT KAI dalam hal ini Pak Dirut (KAI), Pak Bobby, dan Pak Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah bergerak dengan cepat melakukan evakuasi dan memberikan penanganan yang terbaik untuk para korban,” ucapnya.
Dia mengatakan proses investigasi diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) agar penyebab kecelakaan dapat diungkap secara objektif dan menjadi dasar perbaikan ke depan.
Baca juga: Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan KA menjadi 15 orang
Pemerintah juga terus mendorong percepatan pemulihan jalur dan layanan transportasi agar mobilitas masyarakat tetap terjaga dan dampak gangguan dapat diminimalkan secepat mungkin.
"Pada saat yang sama upaya pemulihan jalur dan layanan terus dilakukan. Pemerintah hadir dan bergerak memastikan keselamatan serta kepentingan masyarakat tetap menjadi yang utama," ujarnya.
Selain itu, Qodari menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah turun langsung ke lapangan untuk menjenguk para korban, sebagai bentuk perhatian dan komitmen pemerintah terhadap penanganan musibah tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem keselamatan, khususnya pada perlintasan kereta api yang jumlahnya sangat besar dan berpotensi menjadi titik risiko kecelakaan.
Baca juga: Kecelakaan KA, Polda Metro sebut ada 10 jenazah belum teridentifikasi
"Dan untuk memastikan agar kejadian serupa tidak kejadian lagi pada masa yang akan datang, beliau telah menyampaikan ada 1.800 titik perlintasan atau bidang perlintasan, dan di era Bapak Prabowo ini mudah-mudahan akan ada penanganan yang jauh lebih sistematis," ujarnya.
Qodari menambahkan bahwa tanpa langkah penanganan yang sistematis, potensi kecelakaan akan terus berulang, mengingat banyaknya titik perlintasan yang tersebar tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di wilayah lain, seperti Sumatera.
Insiden kecelakaan kereta itu melibatkan KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi yang bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur (BKST) pada Senin (27/4) malam pukul 20.55 WIB.
Tabrakan itu mengakibatkan kerusakan parah pada gerbong wanita KRL. Polda Metro Jaya melaporkan sampai dengan Selasa siang korban meninggal dunia berjumlah 15 orang.
Baca juga: Seskab: Evakuasi korban tabrakan KA di Bekasi intensif dan cepat
Baca juga: Kemenhub ungkap dugaan kronologi awal insiden kereta di Bekasi Timur
Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·