Revitalisasi keluarga emas

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Maka, di peringatan HKI 2026 ini penting disadari bahwa secara ekonomi boleh timpang, tetapi secara budaya dan roh jiwa keluarga harus harmonis dengan beragam nilai yang tercipta.

Surabaya (ANTARA) - Jika hari hari ini bangsa kita sungguh-sungguh menaruh perhatian pada pendidikan keluarga, maka 19 tahun mendatang kita dapat berharap lahirnya generasi emas Indonesia. Tahun 2045, yang telah dicanangkan pemerintah sebagai momentum Indonesia Emas, tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas keluarga sebagai ruang tumbuh pertama anak.

Sebab, keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Dari rumah, perkembangan otak, pembentukan karakter, hingga cara memandang kehidupan mulai dibangun. Dalam konteks itu, kedua orang tua sejatinya adalah guru pertama dan utama.

Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Pendidikan keluarga kerap terabaikan. Rumah-rumah dipenuhi perangkat digital, tetapi kehilangan percakapan hangat yang menghidupkan kedekatan emosional. Orang tua bekerja keras demi menjaga ketahanan finansial keluarga, tetapi sering kali kekurangan waktu untuk benar-benar hadir membersamai anak-anak mereka.

Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan akses informasi tanpa batas, tetapi miskin komunikasi, minim pelukan, kurang perhatian, dan kehilangan keteladanan nyata dari lingkungan terdekatnya. Padahal, pengalaman banyak negara maju menunjukkan bahwa pendidikan keluarga merupakan akar utama yang menentukan kualitas pendidikan sebuah bangsa.

Hari ini, 15 Mei merupakan Hari Keluarga Internasional (HKI). Tema HKI 2026 yang diangkat PBB adalah "Keluarga, Ketimpangan, dan Kesejahteraan Anak". Sebuah tema filosofis yang berpesan akan pentingnya penguatan sosial-ekonomi, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga konektivitas digital yang aman.

Revitalisasi keluarga

Anak-anak adalah investasi emas di masa depan. Keluarga berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas. Refleksi revitalisasi keluarga berikut menarik untuk diwujudkan.

Pertama, hadirnya keluarga yang diliputi kesadaran. Keluarga berkesadaran adalah keluarga istimewa bagi pertumbuhan jiwa anak. Penuh kematangan emosi yang dicontohkan dalam perbuatan dan tindakan nyata orang tua. Keluarga berkesadaran dipastikan akan menjelma keluarga harmonis: sebuah ladang subur akan tumbuhnya benih generasi emas dari keluarga.

Dalam pandangan filsafat eksistensialisme, manusia itu makhluk yang "dilempar" ke dunia: lahir tanpa memilih waktu, tempat, maupun keluarganya. Maka, dari keluargalah, manusia pertama kali belajar cinta, kemanusiaan, kesadaran, identitas eksistensi, makna hidup, hingga makna sebuah kehilangan sekalipun.

Kata Martin Heidegger, manusia akan mengalami being-in-the-world, ada yang selalu berada dan tersambung dalam relasi dunia. Sebelum mengenal dunia, di keluargalah anak-anak mengenal negara, sekolah, agama, dan hakikat cinta.

Bagaimana suara ibu yang melantunkan pesan kesadaran, tangan kesadaran ayah menggenggamnya, hingga tatapan mata anggota keluarga yang memancarkan kesadaran.

Keluarga bukan sekadar unit sosial, tetapi sebentuk rumah kesadaran jiwa bagi anak-anak. Karena itu, pernikahan berkesadaranlah yang akan menjadi pintu kesadaran keluarga ke depan.

Jangan sampai modernitas serba cepat berakibat lahir keluarga yang tereduksi jadi "alamat tinggal bersama". Serumah tetapi tidak ada kehangatan dan pancaran nilai kesadaran jiwa para penghuninya.

Baca juga: Keluarga berkualitas modal utama RI bersaing di kancah internasional

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.