Indonesia tengah bersiap untuk opsi ekspor pupuk khususnya pupuk urea. Sudah ada sejumlah negara yang berminat, salah satunya Australia.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menjelaskan opsi impor ini menunggu arahan dari pemerintah. Ini karena kebutuhan dalam negeri tetap jadi prioritas.
“Australia menjadi salah satu negara yang tengah menjajaki peluang impor pupuk urea dari Indonesia. Pupuk Indonesia pada prinsipnya siap mengikuti arahan pemerintah dalam menindaklanjuti peluang tersebut, dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri,” kata Yehezkiel kepada kumparan, Rabu (22/4).
Ia juga menekankan kebijakan ekspor akan dilaksanakan secara hati-hati, setelah memastikan ketersediaan pupuk bagi petani aman, termasuk dengan mempertimbangkan musim tanam yang akan segera datang.
Terkait stok di Pupuk Indonesia, ia menyebut per 20 April 2026 ada dalam kondisi aman dengan mencapai sekitar 1,18 juta ton.
“Ketersediaan ini akan terus diperkuat oleh produksi harian yang berjalan optimal, yakni sekitar 25 ribu ton per hari untuk urea dan sekitar 15 ribu ton per hari untuk NPK. Dengan dukungan stok dan produksi yang optimal tersebut, kebutuhan pupuk bagi petani Indonesia tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.
Yehezkiel juga menuturkan bahan baku pupuk urea tak terkendala perang yang sedang terjadi di Timur Tengah. Hal ini karena bahan baku pupuk urea berasal dari dalam negeri.
“Bahan baku utama berupa gas bumi berasal dari domestik dengan pasokan dan harga yang dijamin pemerintah, sehingga sama sekali tidak bergantung pada impor,” kata Yehezkiel.
Sementara untuk beberapa bahan baku pupuk lain yang memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, Yehezkiel menjelaskan bahwa saat ini Pupuk Indonesia tengah memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber impor.
Untuk Fosfat (P) sebagai komponen penting pupuk NPK dipasok dari kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sedangkan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah.
“Sementara sebagian sulfur (S) memang diperoleh dari Timur Tengah, namun risikonya dapat dimitigasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan. Sementara itu, asam sulfat sebagai produk yang dihasilkan dari pengolahan sulfur juga dapat dipenuhi dari sumber domestik. Dengan strategi ini, proses produksi tetap berjalan optimal dan pasokan pupuk nasional tetap aman,” ujarnya.
Sebelumnya, Wamentan Sudaryono juga menjelaskan bahwa secara kapasitas, produksi PT Pupuk Indonesia saat ini mencapai 14,65 juta ton per tahun. Angka tersebut terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK sebanyak 4,52 juta ton, ZA sebesar 750 ribu ton, serta ZK sebesar 20 ribu ton per tahun.
Dari total kapasitas tersebut, terdapat potensi kelebihan pasokan yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor secara terukur. Meski demikian, Sudaryono tetap menegaskan kebutuhan dalam negeri akan menjadi prioritas utama sebelum realisasi ekspor dilakukan.
“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelasnya.
India Juga Berpeluang Impor Pupuk dari Indonesia
Selain Australia, ia juga menyebut ketertarikan India terhadap pupuk asal Indonesia menjadi peluang yang cukup relevan, terutama karena perbedaan musim tanam antara kedua negara. Kondisi ini dinilai tidak akan mengganggu distribusi pupuk di dalam negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan Duta Besar India untuk Indonesia serta jajaran Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian pada Kamis (16/4).
“Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia siap untuk kita bisa ekspor urea ke India, karena perbedaan musim tanam membuat pasokan tetap aman di dalam negeri,” kata Sudaryono.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·