Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.128 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/4/2026) pagi, yang menjadi posisi terendah sepanjang sejarah. Pelemahan ini tercatat sebesar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, memicu respons cepat dari otoritas moneter.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan kepastian bahwa bank sentral akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda. BI berkomitmen menggunakan seluruh instrumen yang tersedia guna meredam volatilitas yang terjadi di pasar keuangan.
"Bank Indonesia selalu akan ada di pasar. Kita terus akan menjaga stabilitas daya rupiah dengan berbagai instrumen yang kita miliki," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, di Jakarta Pusat.
Dilansir dari CNN Indonesia, Destry menjelaskan bahwa tren depresiasi ini tidak hanya menimpa Indonesia. Sejumlah mata uang regional di kawasan Asia, seperti won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina, juga mengalami tekanan serupa terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah semakin menguat sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu. Sejak periode tersebut, nilai tukar rupiah tercatat sudah mengalami pelemahan sekitar 1,9 persen akibat ketidakpastian global.
Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia mengoptimalkan operasi moneter melalui intervensi di berbagai lini. Langkah ini mencakup intervensi langsung di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore atau Non Deliverable Forward (NDF).
Destry mencontohkan adanya lonjakan spekulatif di pasar NDF yang sempat menembus angka di atas Rp17.100 meskipun belum ada transaksi riil yang terjadi. Tim BI segera memberikan respons untuk menstabilkan pergerakan tersebut agar tidak berimbas lebih luas.
Pengawasan pasar kini dilakukan BI selama 24 jam penuh dengan memanfaatkan jaringan kantor perwakilan di luar negeri. Pemantauan dimulai saat pasar Asia di Singapura dan Hong Kong dibuka, kemudian berlanjut ke pasar Eropa hingga pasar Amerika Serikat.
Optimalisasi kantor perwakilan BI di London dan New York menjadi kunci dalam memantau dinamika global secara real-time. Selain intervensi harga, BI juga fokus memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup di pasar domestik demi menjaga kepercayaan pelaku ekonomi.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·