Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor performa buruk dengan merosot 0,32% ke level terendah sepanjang masa pada penutupan pekan ini. Berdasarkan data perdagangan Jumat (17/4/2026), mata uang Garuda berada di posisi Rp17.190 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini mempertegas kerentanan ekonomi nasional yang kian tertekan oleh memburuknya persepsi risiko global, sebagaimana dikutip dari Bloombergtechnoz. Tren pelemahan ini sebenarnya melanda hampir seluruh mata uang di kawasan Asia secara serentak.
Baht Thailand mengalami koreksi paling dalam sebesar 0,45%, disusul oleh rupiah yang melemah 0,33%. Mata uang lainnya seperti won Korea Selatan, peso Filipina, dan yen Jepang juga terperosok di zona merah pada sore yang sama.
Di sisi lain, rupee India menjadi satu-satunya yang mampu bertahan dan menguat 0,41%. Pencapaian ini terjadi setelah bank sentral India melarang kilang minyak membeli valas di pasar spot dan mengalihkannya ke fasilitas kredit khusus.
Indeks dolar AS terpantau menguat tipis 0,02% ke level 98,23, sementara harga minyak mentah Brent masih bertahan di angka US$98,51 per barel. Ketidakpastian mengenai gencatan senjata menjadi faktor utama yang menekan pasar negara berkembang.
Indonesia dinilai menjadi negara yang paling berisiko mengalami penurunan peringkat (rating) di Asia Tenggara jika konflik bersenjata terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh posisi Indonesia yang sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Para pemimpin negara di Teluk Arab dan Eropa memperkirakan kesepakatan damai antara AS dan Iran membutuhkan waktu minimal enam bulan. Situasi ini memicu desakan agar kedua pihak memperpanjang masa gencatan senjata selama proses negosiasi berlangsung.
Ancaman PHK dan Beban Fiskal Domestik
Dampak pelemahan rupiah mulai merambah ke sektor industri manufaktur dalam negeri. Lonjakan harga bahan baku akibat perang yang berkepanjangan kini mengancam keberlangsungan lapangan kerja bagi ribuan buruh.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaporkan bahwa sektor padat karya seperti tekstil dan suku cadang otomotif berada dalam posisi berbahaya. Setidaknya 10 perusahaan dilaporkan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Potensi dampak sosial ini diperkirakan menyasar sekitar 9.000 pekerja. Selain itu, tekanan inflasi dari kenaikan harga energi memicu kekhawatiran akan naiknya suku bunga pasar yang meningkatkan beban pinjaman pemerintah.
Kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 per barel secara langsung berpotensi menambah defisit anggaran negara hingga Rp6,8 triliun. Pemerintah perlu memperkuat basis pendapatan negara untuk menjaga ruang fiskal dari kerentanan tekanan eksternal ini.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·