Rupiah Berpotensi Melemah ke Level 17.300 Akibat Konflik Selat Hormuz

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami tekanan hebat hingga menyentuh angka Rp 17.300 per dollar AS pada Senin (20/4/2026). Dilansir dari Money, kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz serta beban fiskal domestik yang memengaruhi kepercayaan para investor.

Tren pelemahan mata uang garuda tersebut dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah sebelumnya mendekati level Rp 17.200 pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026). Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi mengenai pergerakan nilai tukar pada pekan depan.

“Nah ini bisa saja bahwa rupiah ini akan tembus di level Rp 17.300an dalam minggu depan,” ujar Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas.

Ibrahim juga menjelaskan bahwa pergerakan indeks dollar AS diperkirakan masih akan berada pada rentang terbatas. Titik dukung atau support berada pada kisaran 97,150, sementara level resistensi psikologis tercatat pada angka 100,00.

“Indeks dollar AS dalam sepekan kemungkinan ditransaksikan di 97.150, itu support-nya, resistenya di 100.00. Saya ulangi, untuk indeks dollar support-nya itu 97.150, kemudian resistenya, harga tertinggi itu di 100.00,” paparnya Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas.

Ketegangan meningkat setelah Iran sempat membuka Selat Hormuz selama 24 jam sebelum akhirnya menutup kembali jalur distribusi minyak dunia tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan kemungkinan berakhirnya gencatan senjata jika kesepakatan tidak tercapai.

“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, jadi akan ada blokade dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi,” kata Donald Trump, Presiden AS.

Di pihak lain, militer Iran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi potensi eskalasi konflik lebih lanjut. Jenderal Mohammed Naqdi mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki persenjataan terbaru untuk merespons situasi perang.

"Jika perang dimulai lagi, kami akan menggunakan rudal yang tanggal produksinya adalah Mei 2026," kata Jenderal Mohammed Naqdi, perwira militer Iran.

Pihak Iran juga mengklaim memiliki kendali atas pasokan energi global melalui jalur strategis tersebut. Meski demikian, mereka menyatakan masih mengedepankan kesabaran dalam menghadapi situasi diplomatik saat ini.

“Kita bisa menghentikan produksi minyak, tetapi kita tidak ingin menimbulkan gangguan bagi dunia, jadi kita bertindak dengan sabar,” lanjut Jenderal Mohammed Naqdi, perwira militer Iran.

Bagi Indonesia, gangguan di Selat Hormuz secara tidak langsung memicu lonjakan permintaan dollar AS untuk keperluan impor energi. Selain faktor global, defisit APBN yang mendekati batas atas turut menjadi sorotan pasar karena berpotensi menambah beban subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia.