Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diprediksi masih terbuka dalam jangka pendek. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di Rp 17.336 per dolar AS, atau turun sekitar 9 poin atau 0,05 persen per Sabtu (2/5) pukul 11.49 WIB.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Randy Manilet, menyebut posisi rupiah yang berada di kisaran Rp 17.300 per dolar AS sudah mendekati titik terlemah historis, dengan tren pelemahan yang masih cukup konsisten dalam beberapa pekan terakhir.
“Dengan kondisi global saat ini, saya melihat pekan depan tekanan masih dominan, dengan potensi bergerak di kisaran yang sama atau sedikit melemah, kecuali ada kejutan positif dari data inflasi Amerika Serikat yang bisa mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga,” ucap Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (2/5).
Yusuf menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. Pertama, kebijakan moneter global yang masih ketat, terutama di AS, yang membuat dolar tetap kuat dan menarik arus modal kembali ke aset berbasis dolar. Kedua, faktor geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak, yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan dolar bagi Indonesia sebagai net importir energi. Ketiga, faktor musiman berupa kebutuhan dolar pada kuartal kedua untuk pembayaran dividen dan kewajiban luar negeri korporasi.
“Kombinasi ini membuat tekanan terhadap rupiah bersifat berlapis, bukan hanya sentimen sesaat,” tutur Yusuf.
Dari sisi kebijakan, dia menilai Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi secara cukup intensif, tercermin dari penurunan cadangan devisa dalam beberapa periode terakhir. Menurutnya, isu utama bukan lagi apakah intervensi dilakukan, melainkan sejauh mana intensitasnya akan ditingkatkan.
“Jika tekanan terus berlanjut dan mendekati level psikologis berikutnya, misalnya mendekati Rp 18.000, BI kemungkinan akan dihadapkan pada pilihan untuk menaikkan suku bunga guna menahan pelemahan. Namun langkah ini punya konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi karena biaya kredit akan meningkat,” jelas Yusuf.
Dalam kondisi ini, Yusuf menilai emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai karena pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga emas domestik. Meski demikian, ia mengingatkan emas bukan instrumen yang selalu naik dan tetap sensitif terhadap kebijakan moneter global.
“Kalau diterjemahkan ke dalam strategi yang lebih praktis, pendekatan yang masuk akal adalah diversifikasi. Emas tetap relevan sebagai bagian dari portofolio, tetapi porsinya sebaiknya terbatas dan dibeli secara bertahap agar tidak terjebak di harga puncak,” sebutnya.
Ada Peluang Rupiah Menguat pada Awal Mei
Di sisi lain, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai rupiah berpeluang menguat pada awal bulan. Hal tersebut didorong oleh meredanya permintaan dolar domestik yang biasanya tinggi pada akhir bulan.
“Terutama karena pertama terkait dengan dampak dari permintaan dolar yang tinggi untuk domestik pada akhir bulan. Efeknya itu sudah berakhir, ya, karena sekarang, kan, sudah awal bulan. Jadi demand untuk dolar domestik juga kelihatannya tidak setinggi pada akhir bulan,” ucap Myrdal kepada kumparan.
Selain itu, kondisi global dinilai relatif stabil karena belum ada perkembangan signifikan terkait konflik geopolitik maupun perubahan kebijakan dari bank sentral AS. Adapun dari sisi domestik, Myrdal menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, didukung oleh data PMI dan inflasi yang positif, serta surplus neraca perdagangan yang tetap terjaga.
“Kalau kita cermati juga dari sisi permintaan dividen memang masih tinggi, ya. Tapi terutama corporate yang kita harapkan ini pembagian kebutuhan dividennya pada awal-awal bulan Mei, ya,” lanjut Myrdal.
Dengan berbagai faktor tersebut, ia memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang Mei akan berada di kisaran Rp 16.923 hingga Rp 17.376 per dolar AS.
“Kita harapkan sih, ya, rupiah untuk bulan Mei masih di level antara 16.923 sampai 17.376. Paling, ya, saya lihat sih di kisaran level itu,” terang Myrdal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·