Proyeksi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berlanjut pada pekan pertama Juni 2026 akibat bayang-bayang ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu upaya penguatan mata uang domestik.
Kondisi tersebut dilansir dari Bloomberg Technoz pada Minggu (31/5/2026), setelah rupiah terdepresiasi 0,48 persen ke posisi Rp17.874 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
Sepanjang Mei, rupiah mencatatkan penurunan berturut-turut selama tiga bulan setelah terkoreksi sebesar 2,91 persen dan kini berada di ambang level psikologis baru sebesar Rp18.000 per dolar AS.
Situasi ini dipengaruhi pula oleh potensi pelebaran indeks dolar AS atau DYX ke rentang 98,1 sampai 101 akibat sentimen konflik global yang mengerek harga minyak mentah dunia.
"Untuk rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju Rp18.150 per dolar AS di minggu pertama di bulan Juni ini," kata Ibrahim, Direktur PT. Traze Andalan Futures pada Minggu (31/5/2026).
Ia menilai pergerakan pasar ke depan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika di Timur Tengah.
"Jadi akan kemungkinan melebar ya," tutur Ibrahim terkait potensi pergerakan indeks dolar AS.
Risiko pasar global saat ini juga dipengaruhi oleh penantian para pelaku pasar terhadap kepastian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun ada kabar positif kesepakatan awal perpanjangan gencatan senjata 60 hari yang menurunkan harga minyak Brent ke kisaran 92,85 dolar AS per barel, persetujuan akhir masih tertahan di meja Presiden AS Donald Trump.
"Artinya, risiko minyak turun memang membantu rupiah, tetapi risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Dari dalam negeri, tekanan rupiah diperberat oleh minimnya pasokan dolar jangka panjang dari Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan transaksi berjalan, di mana aturan wajib DHE masih diragukan trader karena dana tetap dikendalikan eksportir.
"Ini penting karena selama pasokan dolar dari ekspor belum cukup kuat, sementara kebutuhan dolar untuk impor, utang luar negeri, dividen, dan energi tetap tinggi, rupiah akan mudah tertekan setiap kali ada guncangan sentimen" kata Josua.
Di sisi lain, pasar obligasi dalam negeri menunjukkan anomali berupa kurva imbal hasil yang terlalu datar antara tenor pendek dan panjang yang dinilai memberikan sinyal keliru bagi investor global mengenai harga risiko di Indonesia.
"Saat ini kita melihat tenor satu tahun dan tenor sepuluh tahun sama-sama berada di kisaran 6,7%," kata Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia lewat keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).
Ia menegaskan bahwa pembeli obligasi sepuluh tahun idealnya mendapatkan premi risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen satu tahun.
"Ketika kedua tenor tersebut memiliki imbal hasil yang hampir sama, pasar mulai mempertanyakan mekanisme price discovery yang terjadi," kata Fakhrul.
Ketidaksesuaian premi risiko ini pada akhirnya mengurangi minat investor asing untuk menahan aset dalam denominasi rupiah.
"Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset Rupiah menjadi berkurang," tutur Fakhrul.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·