NILAI tukar rupiah pada Selasa, 21 April 2026 ditutup di level 17.142 per dolar Amerika Serikat atau menguat 26 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Penguatan rupiah terjadi menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 20-21 April 2026.
Mengutip data Trading Economics, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 17.140 pada Selasa, atau bertahan di atas level psikologis 17.000 sejak awal bulan. Tekanan terus berlanjut seiring dimulainya rapat kebijakan moneter Bank Indonesia selama dua hari.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Analisis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyatakan rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,88 persen secara bulanan.
Tekanan eksternal semakin meningkat tepat ketika inflasi domestik mulai mereda. Inflasi umum turun menjadi 3,48 persen secara tahunan alias year on year pada Maret 2026. Angka inflasi ini mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen –3,5 persen. Seiring dengan mulai meredanya efek basis rendah akibat diskon tarif listrik sebelumnya.
Namun, perbaikan inflasi disertai dengan meningkatnya ketidakpastian global, terutama setelah eskalasi konflik AS–Iran, yang telah meningkatkan risiko inflasi impor melalui kenaikan harga energi dunia dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.
“Guncangan eksternal ini mulai berdampak ke Indonesia, sebagaimana tercermin dalam arus modal keluar bersih sebesar US$ 1,47 miliar, depresiasi rupiah, dan penurunan cadangan devisa menjadi US$ 148,2 miliar,” demikian dipaparkan tim peneliti LPEM FE UI dalam ‘Seri Analisis Makroekonomi RDG BI’ yang dipublikasi pada Selasa, 21 April 2026.
Di tengah kondisi ini LPEM FE UI berpendapat bahwa Bank Indonesia sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75 persen. Dengan memprioritaskan stabilitas eksternal sambil memantau dengan cermat perkembangan tekanan inflasi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·