Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.505 pada perdagangan Selasa (11/5/2026). Penurunan sebesar 0,59 persen yang terpantau pada pukul 10.03 WIB tersebut tercatat sebagai posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah secara intraday.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait penurunan daya beli masyarakat akibat potensi kenaikan harga barang impor dan tekanan inflasi. Dilansir dari Kompas, fluktuasi kurs ini juga berdampak negatif bagi perusahaan multinasional karena produk ekspor menjadi kurang kompetitif akibat harga jual yang lebih mahal di pasar global.
Perusahaan yang bergantung pada transaksi luar negeri diprediksi menghadapi tekanan keuntungan, sementara investor berpotensi mengalami penurunan laba portofolio. Sebagai langkah antisipasi, masyarakat mulai beralih ke instrumen investasi yang mampu menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi.
Emas menjadi pilihan utama sebagai instrumen lindung nilai atau hedge karena harganya yang dipatok dalam dolar AS cenderung naik saat rupiah melemah. Pemilik emas berpeluang mendapatkan keuntungan ganda dari penguatan nilai tukar dolar serta kenaikan harga emas di pasar internasional sebagai aset aman (safe haven).
Selain logam mulia, obligasi perusahaan yang berorientasi ekspor di sektor pertambangan dan komoditas juga dinilai menjanjikan. Perusahaan eksportir diuntungkan karena memperoleh pendapatan dalam dolar AS sementara biaya operasional tetap menggunakan rupiah, sehingga kemampuan membayar kupon obligasi lebih terjaga.
Instrumen valuta asing (valas) seperti tabungan atau deposito dolar AS turut menjadi opsi untuk mempertahankan nilai kekayaan. Masyarakat juga dapat memilih Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang diterbitkan pemerintah karena menawarkan risiko rendah dengan jaminan pembayaran pokok dan kupon tetap oleh negara.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·