Rupiah Melemah ke Rp17.122 Saat IHSG Menguat pada April 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.122 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (14/4/2026) sore, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik menguat ke posisi 7.675. Penurunan sebesar 0,11 persen ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di Asia pada hari tersebut.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelemahan mata uang garuda ini dipicu oleh penyempitan selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) dengan US Treasury. Kondisi tersebut membuat daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global menurun signifikan meskipun valuasi saham tercatat masih murah.

"Di sinilah sumber tekanan yang sebenarnya. Selama spread makin tipis, aset Indonesia kehilangan daya tarik. Akibatnya, meskipun valuasi saham terlihat murah, investor asing tetap tidak punya insentif besar untuk masuk secara agresif," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.

Tekanan terhadap likuiditas pasar valas diperberat oleh tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri untuk kebutuhan repatriasi dividen musiman dan pembayaran impor. Di saat yang sama, cadangan devisa pada Maret 2026 dilaporkan menurun yang membatasi ruang intervensi otoritas moneter.

NH Korindo Sekuritas memproyeksikan pergerakan rupiah berpotensi terus melorot hingga kisaran Rp17.250 sampai Rp17.350 per dolar AS. Ketidakpastian geopolitik global dan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch turut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

IHSG sendiri menutup perdagangan dengan kenaikan 2,34 persen atau berada di posisi 7.675,95 dengan nilai transaksi mencapai Rp24,85 triliun. Penguatan indeks komposit ini ditopang oleh sektor infrastruktur yang melesat 5,61 persen, disusul sektor perindustrian dan energi.

Analis menekankan bahwa keberlanjutan pemulihan pasar saham sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar agar investor asing terhindar dari risiko kerugian kurs. Bank Indonesia kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara dukungan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian arus modal keluar.