Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (14/4/2026) pagi di saat mayoritas mata uang di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan. Berdasarkan data pasar spot, rupiah terdepresiasi sebesar 0,13 persen ke level Rp17.125 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan terkoreksinya nilai mata uang won Korea Selatan, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, dan yen Jepang yang terpantau bergerak menguat pada periode yang sama.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan mata uang kawasan Asia mendapatkan sentimen positif dari tergelincirnya harga minyak mentah dunia. Harga minyak dilaporkan turun ke posisi US$97,98 per barel, yang biasanya memberikan kelegaan bagi negara-negara pengimpor energi.
Selain faktor harga minyak, munculnya optimisme baru terhadap peran yuan sebagai pesaing dominasi dolar AS turut mendorong penguatan sejumlah mata uang regional. Hal ini dipicu oleh peningkatan permintaan yuan setelah Iran mulai menerima pembayaran dalam mata uang China tersebut untuk transaksi energi global.
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa transaksi minyak mentah dalam denominasi yuan melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) sempat mencetak rekor harian sebesar 1,22 triliun yuan atau setara US$179 miliar. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam jalur perdagangan minyak internasional di tengah dinamika geopolitik.
Meskipun harga minyak dunia sedang terkoreksi, rupiah tetap berada dalam tekanan akibat beban fiskal domestik yang masih berat. Kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi di dalam negeri tetap tinggi karena level harga minyak dianggap masih cukup stabil di angka yang mahal meskipun sempat turun hari ini.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah berupaya mengamankan pasokan energi nasional melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Rusia. Namun, ketidakpastian global terkait eskalasi politik internasional dinilai masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi serta stabilitas mata uang nasional.
Pelaku pasar terpantau masih bersikap hati-hati dalam mencermati langkah kebijakan fiskal pemerintah selanjutnya. Fokus utama investor tertuju pada kemampuan pemerintah dalam menjaga kredibilitas anggaran di tengah tekanan subsidi energi dan kebutuhan pembiayaan negara yang terus meningkat.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·