Rupiah Melemah ke Rp17.655 per Dolar AS Pagi Ini

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka mengalami penurunan tipis pada perdagangan Kamis pagi, 21 Mei 2026. Pelemahan mata uang Indonesia tersebut dipicu oleh kokohnya indeks dolar, tingginya harga minyak dunia, serta kekhawatiran pasar terhadap kerentanan kondisi fiskal domestik.

Berdasarkan data transaksi antarbank pada Kamis pagi yang dilansir dari Kompas, mata uang rupiah bergerak melemah sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp17.655 per dolar AS. Angka tersebut mencatat penurunan dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.654 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan bahwa pergerakan mata uang rupiah di sepanjang hari ini masih akan tertahan di zona merah akibat tekanan dari sentimen eksternal.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.690 - Rp17.740 dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan indeks dolar yang masih kuat," kata Rully di Jakarta, dikutip dari Antara.

Faktor utama yang membayangi pelemahan rupiah bersumber dari fluktuasi komoditas energi global, di mana harga minyak mentah Brent berjangka diperdagangkan di level 104,5 dolar AS per barel atau turun 6,5 persen. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate AS juga terkoreksi 5,5 persen ke posisi 98 dolar AS per barel.

Koreksi harga minyak dunia tersebut dipicu oleh sentimen geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ketegangan dengan Iran akan segera berakhir. Namun, penurunan harga tertahan oleh menyusutnya pasokan minyak mentah komersial dan cadangan strategis AS hingga 17,8 juta barel pada pekan lalu akibat lonjakan ekspor.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar saat ini sedang fokus mencermati ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dinilai rapuh serta sensitif terhadap guncangan geopolitik dan beban subsidi. Pasar juga masih bersikap wait and see dalam menganalisis arah kebijakan ekonomi dari pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR pada Rabu, 20 Mei 2026.

"Pidato presiden masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP (Gross Domestic Product)," ungkap Rully.

Rendahnya rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto tersebut menjadi perhatian serius karena pemerintah membutuhkan ruang fiskal luas untuk mendanai program strategis. Kombinasi kuatnya dolar AS dan tantangan struktural domestik diprediksi akan menahan laju penguatan rupiah dalam jangka pendek.