Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.394 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.337 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia.
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak Rusia dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Pengurangan pasokan minyak Rusia ke pasar global disebut akan memicu kenaikan harga yang lebih tajam.
Baca juga: Rupiah diprediksi menguat seiring potensi gangguan pasokan global reda
Baca juga: Kurs rupiah pada Senin pagi stabil di Rp17.337 per dolar AS
Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan bahwa sistem pertahanan udaranya telah menembak jatuh 740 drone Ukraina di garis depan dalam 24 jam terakhir per hari Minggu (3/5).
“Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
Sentimen lain dari isu geopolitik di Timur Tengah, terkait ucapan Presiden AS Donald Trump bahwa AS akan mulai mengawal kapal-kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz yang digambarkan sebagai isyarat kemanusiaan terhadap negara-negara yang terjebak dalam konflik yang tak mereka ikuti.
Walaupun Trump berniat membebaskan Selat Hormuz dari Iran, di sisi lain Iran sudah siap untuk melakukan perang panjang, sehingga konflik ini menciptakan ketegangan yang cukup masif.
“Di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi, sehingga bank sentral dalam pertemuan di bulan Mei ini kemungkinan besar kalau seandainya harga minyak masih tetap di atas 100, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga. Ini yang membuat dolar kembali mengalami penguatan,” ujar dia.
Meninjau sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2026 mengalami keuntungan atau surplus mencapai 3,32 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 22,53 miliar dolar AS dan impor 19,21 miliar dolar AS. Artinya, Indonesia telah mengalami surplus perdagangan selama 19 bulan berturut-turut, yang dianggap memberikan dampak positif terhadap kurs rupiah.
Namun, data terbaru S&P Global yang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Indonesia memasuki fase kontraksi dengan PMI turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April memberikan efek negatif terhadap kurs rupiah.
“Kontraksi ini akan mengindikasikan bahwa akibat dari kenaikan harga minyak membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur,” kata Ibrahim.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin ini justru bergerak menguat ke level Rp17.368 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.378 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah melemah seiring AS ancam perpanjang blokade laut terhadap Iran
Baca juga: Rupiah melemah seiring dampak pertemuan FOMC
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·