Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Pada Perdagangan Senin

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pada perdagangan Senin, 15 April 2026, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dibuka pada level Rp 17.124 per dolar AS, mencerminkan penurunan dari penutupan Jumat sebelumnya.

Pelemahan ini mencapai 0,12 persen dibandingkan penutupan Jumat, ketika rupiah berada di Rp 17.104 per dolar AS. Menurut analis, pelemahan ini sebagian disebabkan oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan juga ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ibrahim Assuaibi, seorang analis mata uang dan komoditas, memperkirakan rupiah akan tetap berada di atas level Rp 17.000 per dolar AS dalam seminggu mendatang. Ia juga menambahkan bahwa indeks dolar AS diperkirakan akan menguat, dengan level support di 97.000 dan resistance di area 100.900.

Peningkatan harga minyak, yang disebabkan oleh potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran, juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Gangguan terhadap distribusi minyak mentah global ini berdampak pada kenaikan inflasi global.

Kenaikan harga minyak dunia, menurut Ibrahim, bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

"Rupiah kemungkinan masih akan melemah. Pelemahan mata uang rupiah itu kemungkinan besar, cukup lebar juga. Dan kemungkinan masih akan bertahan di atas level Rp 17.000," ujar Ibrahim, dilansir dari Kompas.com.

Harga minyak mentah dan emas global diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi dalam minggu mendatang, dengan harga minyak dunia diperkirakan bergerak pada kisaran $78,7 hingga $107,9 per barel. Sementara itu, harga emas dunia juga diperkirakan fluktuatif, dengan potensi penurunan hingga $4.358 per troy ounce, atau sekitar Rp 2.780.000 per gram, jika terjadi koreksi.

Emas akan sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga global serta eskalasi konflik geopolitik. Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral mulai menurunkan suku bunga, maka harga emas cenderung menguat.