Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi di tengah optimisme deeskalasi konflik antara AS dan Iran. Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 0,27 persen ke level Rp17.319 per dolar AS seiring menguatnya mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Tren positif ini menempatkan rupiah di zona hijau bersama sejumlah mata uang regional lainnya sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Peso Filipina tercatat memimpin penguatan di Asia, diikuti oleh dolar Taiwan, ringgit Malaysia, rupiah, yuan offshore, yen Jepang, yuan China, hingga dolar Singapura dan Hong Kong.
Gairah pasar di negara berkembang muncul setelah adanya kabar mengenai pengajuan nota kesepahaman (MoU) satu halaman oleh pihak AS. Dokumen tersebut dilaporkan berisi rencana pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap yang menjadi sinyal positif bagi stabilitas geopolitik global.
Kondisi tersebut mendorong investor kembali melirik aset berisiko meskipun pasar tetap bersikap waspada. Langkah AS dan Iran yang mulai mempertimbangkan proposal baru untuk mengakhiri perselisihan menjadi faktor utama yang memicu kepercayaan pelaku pasar terhadap pemulihan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Dampak euforia perdamaian ini juga merambah ke pasar Surat Utang Negara (SUN) dengan terjadinya aksi beli masif pada hampir semua tenor. Fenomena ini ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield) secara signifikan, termasuk pada instrumen surat utang pemerintah dengan durasi menengah hingga panjang.
Berdasarkan data perdagangan, imbal hasil SUN tenor 4 tahun mengalami penurunan sebesar 2,3 bps menjadi 6,69 persen, sementara tenor 2 tahun turun 1,2 bps ke level 6,33 persen. Yield untuk tenor acuan 10 tahun juga terpantau melandai sebesar 0,4 bps ke posisi 6,73 persen pada sesi perdagangan pagi ini.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·