NILAI tukar rupiah hingga Selasa siang, 26 Mei 2026, masih bergerak di atas level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat. Data Google menunjukan hingga pukul 12.00 rupiah melemah mencapai 17.792 per dolar AS, sedangkan data Bloomberg menyatakan rupiah spot di waktu yang sama tercatat 17.793 per US$ atau melemah 50 poin.
Mata uang rupiah makin tak berdaya mengahadapi penguatan dolar sampai hari ini. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi memprediksi pelemahan rupiah bakal berlanjut hingga besok di libur nasional karena kemungkinan besar tekanan eksternal akan cukup tinggi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Seperti diketahui, perayaan Idul Adha membuat pasar domestik libur panjang selama akhir pekan. “Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara, sehingga hanya di pasar internasional. Ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ucapnya Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah yang anjlok siang ini masih dipengaruhi faktor gejolak yang terjadi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia. Ia memprediksi mata uang RI akan mencapai titik terlemah baru 18.000 per dolar AS di pekan ini.
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini rupiah bakal berbalik menguat pada semester kedua 2026 setelah terus ambruk. Ia menjelaskan pergerakan tersebut mengikuti pola yang selama ini terjadi setiap rupiah tertekan.
“Pengalaman dari kami, saya tidak ingin sombong, kebetulan saya hidup dari krisis ke krisis, 1997-1998 saya ikut di sana. (Tahun) 2008 kondisi global, taper tantrum juga seperti itu. Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli-Agustus akan menguat,” ucap Perry pada pekan lalu.
Bos bank sentral itu menyatakan saat ini nilai rupiah lebih rendah dari angka fundamentalnya alias undervalued. Perry menggunakan patokan dasar asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menargetkan rupiah di level rata-rata 16.500 dengan batas atas 16.800 per dolar AS.
Ia merasa yakin dapat membawa rupiah kembali ke level tersebut dan menguat. Menurut dia, kondisi rupiah yang berada di level terlemah saat ini dipengaruhi faktor musiman, yakni kebutuhan penarikan valuta asing (valas).
“April, Mei, Juni, demand untuk devisa itu besar biasanya. Ada jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen, dan juga pembayaran utang,” ucapnya. Sehingga pada Juli atau Agustus mendatang rupiah bakal kembali membaik.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·