Rupiah Tertekan, Harga Minyak Melonjak Imbas Blokade Selat Hormuz

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat terbatas pada Senin (13/4/2026) setelah pekan lalu mengalami pelemahan. Mata uang Garuda sempat bergerak 0,04% ke posisi Rp17.099 per dolar AS.

Namun, tak lama berselang, rupiah kembali stagnan ke level penutupan akhir perdagangan pekan lalu di Rp17.106 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah global setelah Amerika Serikat memulai blokade Selat Hormuz.

Blokade Selat Hormuz diberlakukan militer AS mulai Senin pagi waktu New York, menyasar kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Tindakan ini merupakan respons atas kegagalan negosiasi akhir pekan antara Washington dan Teheran yang berlangsung sekitar 21 jam di Islamabad.

Kegagalan kesepakatan tersebut kembali menempatkan gencatan senjata rapuh dalam risiko. Meskipun blokade bersifat terbatas, dampaknya langsung terasa pada pasar komoditas.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, harga minyak mentah jenis Brent melonjak 8,37% menjadi US$103,17 per barel pada pukul 07.00 WIB. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 8,59% ke US$104,87 per barel.

Kenaikan signifikan harga minyak ini segera memengaruhi mata uang Asia yang sudah dibuka. Won Korea Selatan melemah 0,9%, diikuti ringgit Malaysia 0,47%, dolar Singapura 0,31%, yen Jepang 0,3%, dan yuan offshore 0,2%.

Kondisi ini disebabkan oleh menurunnya minat investor terhadap aset berisiko. Para investor bereaksi langsung terhadap eskalasi konflik, sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan inflasi dan potensi perlambatan konsumsi dalam jangka panjang.

Dari sisi domestik, Indonesia juga menghadapi tekanan inflasi yang tak terhindarkan. Meskipun pemerintah telah berupaya meredamnya dengan menahan kenaikan harga BBM bersubsidi, biaya produksi di beberapa sektor telah meningkat.

Kenaikan harga barang seperti plastik dan bahan baku tekstil mendorong produsen menaikkan harga jual. Selain itu, kenaikan harga minyak global secara langsung menambah beban subsidi energi yang ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apabila harga minyak Brent terus menembus US$100 per barel, ruang fiskal Indonesia berpotensi semakin sempit. Pasar keuangan menjadi sangat sensitif terhadap situasi ini.

Melebarnya defisit anggaran memicu kekhawatiran investor mengenai kredibilitas pengelolaan anggaran. Hal ini berpotensi memperbesar tekanan pada rupiah dan meningkatkan imbal hasil surat utang negara.

Di tengah ketidakpastian geopolitik yang memanas, manuver diplomasi Indonesia mulai terlihat. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan terbang ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dalam waktu dekat.