Rencana Prancis untuk memperluas arsenal hulu ledak nuklirnya memicu reaksi keras dari pemerintah Rusia. Langkah ini diambil di tengah gejolak geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Dilansir dari Detikcom, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan niatnya untuk menambah jumlah senjata nuklir saat mengunjungi pangkalan militer L&rsquoIle Longue. Fasilitas tersebut merupakan lokasi penyimpanan utama bagi armada kapal selam nuklir milik Prancis.
Prancis saat ini memegang status sebagai satu-satunya anggota Uni Eropa yang memiliki kemampuan persenjataan nuklir. Macron menilai pembaruan kekuatan militer ini menjadi langkah krusial untuk menghadapi risiko keamanan di masa depan.
"Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting," kata Macron. "Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko."
Lebih lanjut, pemimpin Prancis tersebut telah memberikan instruksi langsung untuk meningkatkan jumlah persediaan hulu ledak. Ia menegaskan bahwa kekuatan adalah kunci agar suatu negara tetap disegani dalam kedaulatannya.
"Itulah sebabnya saya memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal kami," ujar Macron.
"Siapa pun yang ingin bebas harus ditakuti. Siapa pun yang ingin ditakuti harus kuat," sambungnya.
Moskow segera merespons kebijakan tersebut dengan peringatan serius. Rusia menegaskan bahwa negara-negara Eropa yang bersedia menampung pesawat pengebom strategis Prancis otomatis akan masuk dalam daftar sasaran militer mereka.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari peningkatan potensi nuklir NATO yang tidak terkendali. Hal tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan strategis Federasi Rusia.
"Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," kata Grushko kepada media pemerintah Russia Today.
Grushko juga berpendapat bahwa inisiatif Prancis justru akan memperlemah keamanan negara-negara tetangganya di Eropa. Alih-alih memberikan perlindungan, kehadiran aset nuklir dianggap hanya akan menambah risiko serangan balik.
"Akibatnya, alih-alih penguatan pertahanan sekutu yang dinyatakan Prancis -- yang kebetulan, tidak mereka berikan jaminan yang pasti -- keamanan negara-negara ini justru melemah," imbuhnya.
Kekuatan Nuklir Prancis Saat Ini
Saat ini, Prancis diperkirakan memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menempatkannya sebagai kekuatan nuklir keempat terbesar di dunia. Posisi ini berada di bawah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.
Kekuatan tempur utama Prancis didukung oleh empat unit kapal selam nuklir yang mampu menjangkau sasaran hingga 10.000 kilometer. Selain itu, mereka memiliki jet tempur Rafale yang dilengkapi rudal jelajah berhulu ledak nuklir.
Keputusan Macron muncul ketika banyak negara Eropa mulai meragukan efektivitas perlindungan nuklir dari Amerika Serikat. Hal ini didorong oleh dinamika politik di Washington yang seringkali mengejutkan sekutu-sekutunya di NATO.
Dalam perkembangannya, Kanselir Jerman Friedrich Merz telah memberikan sinyal kerja sama. Merz menyatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman berpotensi digunakan untuk mendukung transportasi bom nuklir milik Prancis dalam kerangka pertahanan bersama.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·