Sejumlah saham milik konglomerat Prajogo Pangestu mengalami aksi jual masif hingga terkoreksi mendekati 10 persen pada pembukaan perdagangan Rabu (13/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh hasil tinjauan berkala Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan beberapa emiten besar dari indeks global tersebut.
Gelombang pelemahan melanda PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) akibat respons negatif pasar terhadap potensi arus keluar dana asing. Fenomena serupa juga dialami oleh saham PT Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Grup Sinar Mas sebagaimana dilansir dari Money.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.50 WIB, saham BREN merosot 8,03 persen ke level Rp 3.320, sementara TPIA anjlok 9,90 persen ke posisi Rp 4.550. Saham DSSA dan CUAN masing-masing melemah 9,01 persen dan 9,52 persen, sedangkan AMRT turun lebih terbatas sebesar 3,53 persen setelah dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.
Lembaga penyedia indeks asal Amerika Serikat tersebut total mendepak enam saham dari MSCI Global Standard Indexes dalam rebalancing periode Mei 2026. Daftar lengkap saham yang keluar dari indeks tersebut mencakup PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa volatilitas pada saham-saham berkapitalisasi besar ini disebabkan oleh pelaku pasar yang mulai memfaktorkan hasil tinjauan kuartalan MSCI. Kondisi ini dianggap sebagai sentimen negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI,” ujar Nafan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Selain faktor internal pasar modal, tekanan terhadap pasar keuangan domestik diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.500 per dollar AS. Meski rupiah dibuka menguat tipis 0,08 persen ke level Rp 17.515 pada Rabu pagi, kekhawatiran terhadap stabilitas moneter dan pelarian modal tetap membayangi investor.
Kondisi ekonomi global turut memberikan sentimen negatif tambahan, mulai dari perlambatan penjualan ritel domestik hingga tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Inflasi AS yang naik ke level 3,8 persen juga mengakibatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini semakin menipis.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·