Saham Sektor AI Dorong Indeks Emerging Market ke Rekor Tertinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Indeks saham pasar negara berkembang (emerging market) mencatatkan kenaikan signifikan pada Senin, 11 Mei 2026 pukul 20.00, berkat performa gemilang sektor kecerdasan buatan (AI) di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan sektor teknologi ini mengimbangi tekanan pada mata uang negara berkembang akibat menguatnya dolar AS sebagai aset aman.

Kenaikan indeks MSCI emerging market yang mencapai 1,4 persen memicu optimisme investor, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Pertumbuhan ini menempatkan indeks acuan tersebut pada posisi tertinggi sepanjang masa, dengan pendorong utama berasal dari bursa saham di wilayah Asia Timur.

Indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan 4,3 persen ke rekor baru akibat tingginya permintaan terhadap perangkat keras pendukung AI. Investor dilaporkan melakukan aksi beli masif pada saham-saham produsen semikonduktor seperti SK Hynix Inc., Samsung Electronics Co., dan MediaTek Inc. yang merespons kekhawatiran global terkait kelangkaan chip memori.

Namun, tren positif ini tidak merata ke seluruh wilayah karena indeks saham emerging market di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika justru mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Kondisi tersebut mencerminkan adanya kekhawatiran mengenai valuasi sektor teknologi yang dianggap sudah terlalu mahal.

Direktur riset ekuitas di Morningstar Asia Ltd., Lorraine Tan memberikan pandangannya terkait risiko di sektor semikonduktor ini.

"Kami berpendapat bahwa pasar sedikit terlalu tinggi, dari segi valuasi. Jika terjadi gangguan pada pasokan chip akibat kekurangan bahan baku, hal itu akan berdampak pada sektor ini," kata Lorraine Tan kepada Bloomberg Television.

Pernyataan tersebut menyoroti kerentanan sektor teknologi terhadap koreksi jika terjadi masalah distribusi. Sementara itu, indeks mata uang MSCI di pasar berkembang turun 0,1 persen menyusul langkah Presiden AS Donald Trump yang menolak usulan perdamaian dengan Iran.

Sentimen geopolitik ini memicu pelemahan pada hampir seluruh mata uang emerging market, termasuk peso Filipina, rupee India, dan baht Thailand. Meski demikian, tim analis dari JPMorgan memprediksi bahwa potensi kenaikan saham di pasar negara berkembang masih tetap terbuka lebar.

Mislav Matejka selaku pemimpin tim analis JPMorgan menegaskan bahwa potensi pertumbuhan pasar ini masih lebih baik dibandingkan negara maju.

"Para analis yang dipimpin oleh Mislav Matejka mengatakan tren perdagangan AI terus berlanjut, dan saham-saham pasar emerging market lebih murah serta menawarkan potensi kenaikan yang lebih besar," tulis laporan tersebut.

Di sisi lain, obligasi dolar Ukraina tercatat mengalami lonjakan di tengah optimisme gencatan senjata dengan Rusia. Perkembangan ini memberikan harapan bagi berakhirnya konflik berkepanjangan yang selama ini menekan stabilitas ekonomi di wilayah tersebut.