Sawah yang menjaga Negeri

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Cerita tentang padi di Jawa Timur bukan hanya cerita tentang panen. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah daerah menjaga kehidupan jutaan orang melalui butir-butir beras yang sering dianggap biasa.

Surabaya (ANTARA) - Musim panen selalu membawa suasana yang khas di Jawa Timur. Pagi dimulai dengan suara mesin combine harvester yang memecah kabut sawah, sementara karung-karung gabah mulai berjejer di tepi pematang.

Di Lamongan, Ngawi, Bojonegoro hingga Madiun, hamparan hijau berubah menjadi warna keemasan yang menandai satu hal penting bahwa Jawa Timur kembali sedang menjaga dapur Indonesia.

Di tengah ancaman perubahan iklim, cuaca yang makin sulit diprediksi, dan tekanan alih fungsi lahan, produksi padi Jawa Timur justru menunjukkan kenaikan.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi Jawa Timur sepanjang 2025 mencapai 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 12,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada semester pertama 2026, produksi diperkirakan kembali tumbuh sekitar 5 persen.

Angka itu bukan sekadar statistik pertanian. Ia adalah penanda bahwa Jawa Timur masih menjadi tulang punggung pangan nasional. Ketika banyak daerah menghadapi ancaman penurunan produksi akibat kekeringan dan cuaca ekstrem, sawah-sawah di Jawa Timur masih mampu menjaga ritme panen.

Namun di balik capaian itu, ada persoalan yang lebih dalam daripada sekadar target produksi. Sebab pertanyaan sesungguhnya bukan hanya apakah Jawa Timur mampu menghasilkan lebih banyak padi, melainkan apakah pertanian itu masih mampu bertahan sebagai jalan hidup generasi berikutnya.

Baca juga: Pengamanan ganda cegah produk pertanian palsu yang merugikan petani

Baca juga: Pastikan hasil panen terserap maksimal, Tani Merdeka gandeng Bulog Jatim wujudkan kesejahteraan petani


Lumbung pangan

Jawa Timur selama bertahun-tahun dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Kabupaten seperti Lamongan, Ngawi, Bojonegoro, hingga Jember menjadi episentrum produksi beras yang menopang kebutuhan nasional. Pada 2025, Lamongan bahkan mencatat produksi tertinggi di Jawa Timur dengan lebih dari 904 ribu ton GKG.

Kenaikan produksi itu lahir dari banyak faktor. Modernisasi alat pertanian mulai terlihat lebih nyata. Mesin transplanter mempercepat tanam, combine harvester mengurangi kehilangan hasil panen, sementara drone pertanian mulai digunakan untuk penyemprotan pupuk dan pestisida.

Pemerintah daerah juga mulai lebih agresif mempercepat pola tanam. Di Magetan, misalnya, petani didorong menggunakan varietas padi genjah yang berumur pendek agar masa tanam bisa bertambah dari dua kali menjadi tiga kali setahun. Strategi ini penting karena luas lahan pertanian tidak lagi mudah bertambah.

Di sisi lain, pola tanam adaptif berbasis iklim mulai menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Perubahan musim membuat kalender tanam tradisional makin sulit dipakai. Hujan bisa datang terlambat, tetapi juga bisa turun ekstrem dalam waktu singkat. Situasi itu membuat petani harus lebih cepat beradaptasi.

Karena itu, produksi padi hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kesuburan tanah, tetapi juga kemampuan teknologi membaca cuaca, efisiensi air, dan kecepatan distribusi pupuk.

Di titik ini, pertanian Jawa Timur sedang memasuki fase baru. Sawah tidak lagi sekadar ruang produksi tradisional, melainkan ruang yang mulai dipenuhi mesin, data, dan efisiensi.

Tetapi modernisasi itu juga membawa tantangan lain. Tidak semua petani mampu membeli atau mengakses teknologi. Banyak kelompok tani masih bergantung pada bantuan alsintan pemerintah. Ketimpangan ini perlahan menciptakan jurang baru antara petani yang mampu beradaptasi dan yang tertinggal.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.