Air putih punya peran sangat penting bagi tubuh. Cairan membantu menjaga suhu tubuh, mendukung kerja ginjal, melancarkan pencernaan, hingga membawa nutrisi ke seluruh sel. Karena begitu dekat dengan kehidupan sehari hari, muncul banyak anggapan soal minum air putih yang belum tentu benar.
Di media sosial, informasi tentang air putih sering bercampur antara fakta dan mitos. Ada yang percaya harus minum sebanyak mungkin agar sehat, ada juga yang menghindari minum saat makan karena dianggap mengganggu pencernaan. Padahal kebutuhan cairan setiap orang bisa berbeda tergantung usia, aktivitas, cuaca, hingga kondisi kesehatan.
Memahami mana informasi yang benar penting agar tubuh tetap terhidrasi tanpa berlebihan. Berikut beberapa kesalahpahaman yang umum ditemukan dalam keseharian:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Harus Minum Delapan Gelas Setiap Hari
Anjuran delapan gelas sehari memang populer sejak lama. Namun kebutuhan cairan sebenarnya tidak selalu sama pada setiap individu. Tubuh yang lebih aktif, sering berkeringat, tinggal di cuaca panas, atau banyak berolahraga biasanya membutuhkan cairan lebih banyak. Sebagian cairan juga bisa didapat dari makanan seperti buah, sayur, sup, atau minuman lain.
Bahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi, kebutuhan air dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Remaja laki-laki usia 16 sampai 18 tahun misalnya dianjurkan mengonsumsi sekitar 2300 ml air per hari, sementara perempuan di usia yang sama sekitar 2150 ml. Pada orang dewasa, kebutuhan cairan laki laki umumnya juga lebih tinggi dibanding perempuan karena dipengaruhi komposisi tubuh dan aktivitas metabolisme.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients juga menjelaskan bahwa kebutuhan cairan dipengaruhi banyak faktor, termasuk metabolisme dan lingkungan sekitar. Karena itu, rasa haus, warna urine, dan kondisi tubuh sehari hari sering menjadi penanda sederhana untuk melihat apakah tubuh cukup cairan atau tidak.
2. Minum Air Putih yang Banyak Biar Sehat
Air putih memang penting untuk menjaga fungsi tubuh tetap normal. Namun anggapan bahwa semakin banyak minum air maka tubuh otomatis lebih sehat tidak selalu benar.
Tubuh memiliki batas dalam mengatur cairan. Saat minum terlalu banyak dalam waktu singkat, ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan cairan dan kandung kemih menjadi lebih cepat penuh. Akibatnya, frekuensi buang air kecil meningkat dan pada sebagian individu bisa mengganggu aktivitas maupun tidur.
Overhidrasi juga dapat menurunkan kadar natrium dalam darah atau hiponatremia. Kondisi ini bisa memicu mual, sakit kepala, lemas, hingga kebingungan.
Bagi pengidap penyakit jantung dan gagal ginjal, konsumsi cairan berlebihan perlu lebih diperhatikan. Kelebihan cairan dapat memperberat kerja jantung dan menumpuk di dalam tubuh karena ginjal tidak mampu membuang cairan secara optimal. Karena itu, sebagian pasien justru mendapat batasan asupan cairan dari dokter.
3. Air Dingin Bikin Gemuk
Masih banyak yang percaya air dingin bisa membuat lemak membeku lalu memicu kenaikan berat badan. Padahal belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan air dingin secara langsung menyebabkan gemuk.
Tubuh tetap mampu menyesuaikan suhu minuman yang masuk, sehingga lemak tidak tiba-tiba membeku karena air dingin. Yang lebih berpengaruh terhadap kenaikan berat badan justru pola makan berlebihan dan asupan kalori tinggi dalam jangka panjang.
Sebaliknya, air putih dingin maupun suhu normal sama sama tidak mengandung kalori. Mengganti minuman manis dengan air putih justru dapat membantu mengurangi asupan gula harian.
4. Minum Air Dingin Setelah Olahraga Bisa Turunkan Suhu Tubuh
Setelah berolahraga, suhu tubuh biasanya meningkat karena metabolisme dan produksi panas di dalam tubuh ikut naik. Dalam kondisi ini, minum air dingin dapat membantu tubuh melepaskan panas lebih cepat sehingga rasa segar muncul setelah aktivitas fisik.
Penelitian dari jurnal American College of Sports Medicine, minuman dengan suhu sejuk sekitar 15 sampai 21 derajat celsius dianggap nyaman dikonsumsi setelah olahraga. Suhu ini membantu tubuh lebih mudah minum dalam jumlah cukup sehingga kebutuhan cairan setelah berkeringat dapat terpenuhi.
Meski begitu, air suhu normal juga tetap baik dikonsumsi. Yang paling penting adalah mengganti cairan tubuh yang hilang setelah aktivitas fisik.
5. Minum Air Putih saat Makan Bisa Ganggu Pencernaan
Banyak yang percaya minum air putih saat makan dapat mengencerkan asam lambung dan enzim pencernaan sehingga makanan lebih sulit dicerna. Padahal anggapan ini tidak terbukti benar.
Air putih justru membantu melembutkan makanan agar lebih mudah dihancurkan dan diproses di saluran cerna. Cairan juga membantu makanan bergerak lebih lancar dari lambung menuju usus sehingga proses pencernaan berlangsung lebih nyaman.
Penelitian dalam jurnal Nutrition Reviews tahun 2015 menjelaskan cairan tidak otomatis mengganggu kerja asam lambung maupun enzim pencernaan. Sebaliknya, air membantu makanan bercampur di saluran cerna sehingga proses pemecahan dan penyerapan nutrisi tetap berjalan normal.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·