Sejarah Berulang Kebun Binatang Bandung

Sedang Trending 1 jam yang lalu

BANDUNG Zoo atau Kebun Binatang Bandung punya riwayat panjang selama hampir satu abad. Pernah telantar di masa perang kemerdekaan, tempat wisata legendaris itu juga pernah dibubarkan lalu dibentuk pengelola baru. Kini sejarah Bandoengsche Zoologisch Park itu kembali berulang, hanya saja dengan cara baru, yaitu lewat prosedur lelang.

Menurut General Manager Faunaland Dwiki Prakoso, panitia lelang dari Pemerintah Kota Bandung menjelaskan tender secara terbuka dan bersifat teknis pada pertemuan Rabu, 13 Mei 2026, di sebuah hotel di Bandung. Semua peserta diberi kesempatan yang sama untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan terkait aspek administrasi, teknis, maupun pengelolaan konservasi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami melihat proses ini diarahkan agar pengelolaan Bandung Zoo ke depan dapat berjalan sesuai aturan serta mempertimbangkan aspek konservasi,” katanya kepada Tempo, Sabtu 16 Mei 2026.

Pembahasannya dinilai cukup rinci, mulai dari aspek izin lembaga konservasi, pengelolaan satwa, status aset, mekanisme kontribusi, aspek ketenagakerjaan, sampai teknis operasional dan konservasi. Ikut dijelaskan juga tentang pentingnya kemampuan pengelola dalam menjalankan fungsi konservasi, termasuk pengembangbiakan satwa dan pengelolaan animal welfare. “Menurut kami, persyaratan yang disampaikan masih dalam koridor yang wajar untuk pengelolaan lembaga konservasi,” ujarnya. 

Dwiki berharap panitia pemilihan mengutamakan calon mitra yang telah memenuhi persyaratan, telah terdaftar, dan telah memiliki izin lembaga konservasi dari Kementerian Kehutanan. Persyaratan itu dibuat untuk memastikan pengelola memiliki kapasitas dan pengalaman dalam menjalankan fungsi konservasi secara profesional.

"Untuk saat ini kami masih mengikuti seluruh proses sesuai mekanisme yang berjalan,” kata Dwiki. Pesaingnya dalam lelang itu adalah Taman Safari Indonesia, Gembira Loka Zoo, PT Diandra, dan Pejaten Shelter, yang hasil seleksinya akan ditetapkan pada 29 Mei 2026.

Menurut sejarawan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Leli Yulifar, riwayat Kebun Binatang Bandung diawali oleh pendirian kebun binatang di daerah Cimindi oleh Bupati R.A.A. Martanegara pada 1900. Sementara itu, sejumlah pecinta satwa mendirikan kebun binatang juga di kawasan Bukit Dago.

Kemudian, per 1 April 1906 Bandung berubah menjadi gemeente atau kotapraja yang dipimpin seorang wali kota (Burgermaster). Lalu pada 1920 dibentuk Bandoeng Vooruit (Bandung Maju), yakni perkumpulan swasta orang Belanda yang menjadi mitra pemerintah dalam menata kota, khususnya di bidang pariwisata.

Leli mengatakan Bandung saat itu, yang berubah dari desa kecil menjadi kota mungil, dikembangkan untuk kepentingan penduduk Eropa  dengan mengadopsi infrastruktur kota di Eropa. Pemerintah membuat perumahan dalam skala real estate, gedung pemerintahan, penginapan, instansi pendidikan, tempat hiburan, serta taman-taman kota, termasuk Jubileum Park, yang membentang dari ujung paling utara daerah Lebak Gede Barat sampai dengan Cikapundung Timur.

Jubileum Park atau taman ulang tahun yang dibuat pada 1923 adalah taman botanik yang berisi tanaman keras dan tanaman hias. Pembelian tanahnya oleh pemerintah kotapraja mulai 1920. Pendirian taman itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang hingga kini tidak diketahui lagi jejaknya.

Selanjutnya Bandoeng Vooruit berinisiatif menyatukan kebun binatang di Cimindi dan Bukit Dago di Jubileum Park. Pembangunannya oleh kontraktor Thio Tjoan Tek yang berkantor di Ost Eindeweg atau kini Jalan Sunda.

Setelah jadi, pendirian tempat itu disahkan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada 12 April 1933 dengan nama Bandoengsche Zoologisch Park. “Tanggal itu menjadi awal pendirian Kebun Binatang Bandung,” kata Leli kepada Tempo, Senin, 11 Mei 2026. 

Di masa pendudukan Jepang pada 1942-1945, warga pribumi, termasuk Raden Ema Bratakoesoema,  mengurus kebun binatang itu dengan kemampuan terbatas. Mereka menggantikan pengelolanya yang orang Belanda karena ditangkap tentara Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945-1950, menurut Leli, satwa penghuni kebun binatang semakin tidak terurus dan memprihatinkan di tengah situasi perang dan jatuh bangun kabinet yang membuat ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Pimpinan Bandoengsche Zoologisch Park, yaitu Hogland, yang kembali ke Bandung pada 1956, melihat Taman Hewan yang dulu dikelolanya sudah tampak seperti hutan dengan tumbuhan liar dan tersisa sedikit hewan yang bisa diselamatkan.

Saat itu terjadi kesepakatan Hogland dengan Raden Ema Bratakoesoema, yaitu membubarkan kebun binatang, melikuidasi sisa kekayaan Taman Hewan, dan mendirikan badan hukum yang dinamakan Yayasan Margasatwa Tamansari. Hogland duduk sebagai ketua yayasan dan di dalamnya ada beberapa orang Belanda yang dulu terlibat di Bandoengsche Zoologisch Park.

Pada akhir 1957 Hogland dan koleganya kembali ke Belanda, sehingga yayasan dipimpin Raden Ema Bratakoesoema hingga wafat pada 1984. Kepengurusan yayasan dilanjutkan oleh para ahli warisnya. Belakangan terjadi konflik internal dalam yayasan hingga pemerintah mencabut izin Yayasan Margasatwa Tamansari sebagai pengelola pada 3 Februari 2026.

Sebelum itu, pada medio 1990 Kebun Binatang Bandung hampir dipindahkan ke Jatinangor, Kabupaten Sumedang, karena saat itu Pemerintah Kota Bandung akan menyerahkan lokasi kebun binatang kepada ITB yang akan digunakan untuk perluasan kampus. ”Tetapi karena permasalahan dana, rencana tersebut tertunda,” ujar Leli.