Sejarah Kebiasaan Menyingkat Kata di Indonesia dan Perkembangannya sejak 1960&an

Sedang Trending 37 menit yang lalu

Masyarakat Indonesia saat ini sangat akrab dengan berbagai singkatan atau akronim dalam komunikasi sehari-hari. Istilah-istilah seperti japri (jalur pribadi), modus (modal dusta), mager (malas gerak), hingga bucin (budak cinta) kerap mewarnai percakapan informal.

Dikutip dari Detikcom, fenomena singkat-menyingkat kata ini ternyata memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Kebiasaan unik dalam berbahasa ini bukan sekadar tren modern, melainkan sudah berlangsung sejak lama.

Seorang peneliti bernama Soenjono Dardjowi Djojo pernah membedah fenomena ini dalam penelitiannya. Melalui paper berjudul Acronymic Patterns in Indonesian (1979), ia mengungkapkan bahwa kebiasaan membuat akronim sudah ada sejak zaman dulu.

Meskipun sudah ada sejak lama, tren menyingkat kata baru merebak luas ketika memasuki era 1960-an. Fenomena ini bahkan masuk ke dalam ranah formal dan pendidikan angkatan bersenjata.

Materi mengenai singkatan kata atau akronim menjadi bagian dari pelajaran wajib di akademi militer. Kondisi tersebut mengharuskan para calon prajurit untuk mengikuti kursus akronim secara khusus.

Perkembangan ini kian masif karena mendapat dorongan dari figur pemimpin negara. Presiden pertama Indonesia, Sukarno, menjadi salah satu tokoh utama yang mempopulerkan tren ini.

Sukarno sering menyelipkan akronim ciptaannya dalam pidato-pidato kenegaraan yang ia sampaikan. Salah satu contoh istilah yang sangat melekat adalah berdikari, yang merupakan singkatan dari berdiri di kaki sendiri.

Intensitas kemunculan akronim baru semakin meningkat setelah terjadi peristiwa penting pada pertengahan dekade tersebut. Kebiasaan ini menjadi jauh lebih populer di tengah masyarakat saat peristiwa kudeta gagal pada 1965 pecah.

Sosialisasi Program Pemerintah Era Suharto

Tradisi pembuatan akronim mengalami pergeseran fungsi dan menjadi sangat masif ketika kekuasaan beralih ke era Presiden Suharto. Pemerintah Orde Baru memanfaatkan metode ini sebagai alat komunikasi politik dan sosial.

Pemerintah secara aktif menggunakan akronim untuk menyosialisasikan berbagai program kerja kepada masyarakat. Langkah ini diambil agar program-program tersebut lebih mudah diingat oleh publik.

Salah satu contoh penerapan yang paling terkenal adalah penamaan program rencana pembangunan lima tahun yang disingkat menjadi pelita. Selain itu, penamaan wilayah seperti Jakarta Raya juga dipendekkan menjadi jaya.

Kebiasaan memotong dan menggabungkan kata ini terus bertahan dan hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. Perbedaannya, fokus pembuatan akronim kini lebih banyak lahir dari bahasa gaul untuk mendukung percakapan kasual sehari-hari.