Jakarta (ANTARA) - Pagi itu, kuas lembut memoleskan warna merah di pipi seorang anak dengan nama panggilan Kiki. Wajahnya kian berseri saat ia melantunkan lagu dari bibirnya, bersiap tampil dengan penuh semangat.
Tangannya yang bertumpu pada kursi roda berketuk pelan mengikuti irama. Pakaian adat Bali tampak pas melekat di tubuh kecilnya.
Senyumnya tak pernah lepas, seolah panggung adalah tempat paling nyaman baginya.
Kiki bukan baru belajar bernyanyi. Sejak taman kanak-kanak, ia sudah dilatih oleh guru-guru di sekolahnya. Baginya, menyanyi bukan sekadar kegiatan, melainkan sumber kebahagiaan.
“Aku suka nyanyi karena senang,” ujarnya singkat sembari tersenyum penuh makna.
Perayaan Hari Kartini di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
Ketertarikannya pada dunia tarik suara bahkan telah membawanya mengikuti berbagai lomba. Dua tahun lalu, ia berhasil meraih juara tiga dalam ajang tingkat DKI Jakarta.
Cita-citanya pun sederhana tapi besar yakni menjadi seorang penyanyi. Dengan polos, ia menjadikan nama penyanyi seperti Mahalini sebagai inspirasinya.
Di luar panggung, Kiki adalah anak yang ceria. Ia menyukai pelajaran IPAS dan menikmati waktu istirahat bersama teman-temannya.
Tak hanya bernyanyi, ia juga tertarik pada dunia peragaan busana. Baginya, tampil di depan umum bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan kesempatan untuk mengekspresikan diri.
Kiki tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri, terutama berkat pembinaan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Jakarta Selatan.
Peran SLB ini dalam membina mental siswa juga diakui Yanto, orang tua dari Ella, siswa kelas 6. Yanto melihat perubahan besar pada anaknya sejak bergabung dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) ini.
Menurutnya, kegiatan pentas bakat seperti ini bukan sekadar acara rutin, melainkan sarana penting untuk membangun keberanian anak-anak.
“Ini menjadi motivasi agar anak berani, percaya diri, dan tampil di depan umum,” ujarnya.
Keluarganya baru saja pindah dari Solo. Ia menyebut bahwa keputusan menyekolahkan anaknya di YPAC adalah pilihan yang tepat, terutama karena fasilitas dan pendampingan yang dinilai lebih lengkap.
“Di sini lebih lengkap. Karena kami juga pindahan, jadi cari yang cocok,” katanya.
Ella sendiri memiliki beragam minat, mulai dari melukis, membaca, hingga olahraga seperti menonton sepak bola dan bulu tangkis.
Dalam pelajaran, ia menyukai bahasa Inggris.Cita-citanya pun tak kalah mulia yakni menjadi seorang guru.
Baca juga: YPAC bimbing disabilitas agar memiliki keterampilan melukis
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·