Senat AS Ajukan RUU Protect College Sports untuk Atur Olahraga Kampus

Sedang Trending 5 jam yang lalu

Dua senator Amerika Serikat mengajukan rancangan undang-undang lintas partai bernama Protect College Sports Act pada Rabu, 27 Mei 2026, untuk mengatasi kekacauan regulasi dalam ekosistem olahraga kampus.

Langkah legislatif yang diinisiasi oleh Senator Ted Cruz dari Fraksi Republik dan Senator Maria Cantwell dari Fraksi Demokrat ini bertujuan mengkodifikasi penyelesaian kasus House v. NCAA serta menyusun standar nasional terkait hak nama, citra, dan kemiripan (NIL).

Rancangan undang-undang sepanjang 111 halaman tersebut memuat aturan ketat, termasuk pembatasan transfer bebas bagi atlet hanya satu kali, jendela kelayakan bertanding selama lima tahun, serta pelarangan bagi pelatih untuk pindah ke tim lain di tengah musim berjalan.

Selain itu, regulasi ini mengamendemen Sports Broadcasting Act (SBA) tahun 1961 untuk memungkinkan konferensi menggabungkan hak siar media, sekaligus melarang konferensi besar seperti Southeastern Conference (SEC) dan Big Ten melakukan merger guna membentuk liga super.

Senator Ted Cruz menegaskan bahwa regulasi ini berfokus pada stabilitas kompetisi secara menyeluruh.

"This is a stability bill, not just an NIL bill," kata Cruz.

Pihaknya menambahkan bahwa perpindahan pelatih di tengah kompetisi yang sedang berjalan sangat merugikan tim yang masih bertanding.

"It’s not fair or right to poach a coach in the middle of the season while the team is still competing," ujar Cruz.

Kondisi ini disamakan dengan regulasi pada liga profesional Amerika Serikat yang melarang keras perburuan pelatih sebelum musim kompetisi berakhir.

"There’s a reason the NFL has a rule that you can’t do that. Obviously, NFL teams hire coaches away from each other but they don’t do so in the middle of the season," kata Cruz.

Di sisi lain, Senator Maria Cantwell menyoroti situasi darurat yang melanda sistem olahraga perguruan tinggi saat ini.

"because he and I really do believe the college sports system is in a bit of chaos," kata Cantwell.

Ia menjelaskan bahwa intervensi federal diperlukan karena ancaman infrastruktur olahraga kampus yang kian nyata akibat pemotongan program dan atlet.

"I think it’s better predictability," ujar Cantwell.

Kerangka undang-undang ini dibuat untuk meminimalkan risiko kepunahan program olahraga yang lebih kecil.

"Why did we do it? Because when you’ve got thousands of athletes being cut, hundreds of programs being cut, the risk to the whole infrastructure was too high to not try to get better predictability," kata Cantwell.

Respons positif datang dari Meredith Page selaku Ketua Komite Advokasi Atlet Mahasiswa Divisi I NCAA.

"a phenomenal step," kata Page.

Menurutnya, rancangan regulasi ini membawa angin segar bagi perlindungan masa depan para atlet mahasiswa.

"I think this has lots of great protections and gives the ability for us to stablize the field that is so, so unstable right now," ujar Page.

Sementara itu, pimpinan dari konferensi besar seperti SEC dan Big Ten memilih bersikap hati-hati karena adanya klausul penggabungan hak siar media dan pembatasan pembentukan liga super.

Komisioner SEC Greg Sankey menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keharusan amandemen undang-undang penyiaran tersebut.

"I've made my position on the notion that we need the SBA clear, which I don't think we do," kata Sankey.

Sankey mengindikasikan bahwa draf undang-undang ini mengakomodasi suara-suara dari pihak luar yang memiliki pengaruh berbeda.

"I think that bill speaks to some of the voices of influence other than ours," ujar Sankey.

Kendati demikian, ia tetap memandang penting adanya komunikasi lanjutan antara pihak kampus dengan pemerintah pusat.

"bipartisan engagement in Washington on these issues is critical," kata Sankey.

Kekhawatiran internal mengenai penegakan aturan NIL juga disampaikan oleh Direktur Atletik Georgia, Josh Brooks, terkait potensi penumpukan dokumen kontrak di Komisi Olahraga Kampus (CSC).

"There's so much over-the-cap money being dedicated or contracted," kata Brooks.

Brooks mengkhawatirkan derasnya aliran dana basket yang masuk tanpa adanya rencana eksekusi yang jelas menjelang bursa transfer sepak bola Amerika.

"There's so much money that's already just been put into the system for basketball that if we don't have some relief or an execution plan on how we're going to get there by football, by the portal…" ujar Brooks.

Untuk mengatasi keterbatasan batas kompensasi pendapatan sebesar 21,3 juta dolar AS pada tahun akademik 2026-2027, Brooks mengusulkan wacana penerapan sistem pajak barang mewah internal konferensi.

"Maybe we develop our own luxury tax or something that gives us room so we can grow our rev share number, because otherwise the storm hasn't hit yet," kata Brooks.

Ia memperkirakan lonjakan dokumen penawaran NIL akan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ke depan.

"The amount of deals that are going to be submitted to CSC in the next three months is going to be astronomical," ujar Brooks.

Brooks menegaskan bahwa langkah ini mendesak demi menjaga kepatuhan dan menetapkan sanksi internal.

"That's what we've got to figure out," kata Brooks.

Pihaknya memastikan komitmen kepatuhan sembari merumuskan regulasi denda.

"We'll abide, but the penalties, can we set the penalties?" ujar Brooks.

Terkait kerja sama antar-konferensi besar untuk mengatasi masalah ini, Brooks menegaskan batas hukum yang tidak boleh dilanggar.

"We can't collude," kata Brooks.

Fokus utama konferensi saat ini adalah mencegah pelanggaran oleh sekolah-sekolah di luar keanggotaan mereka.

"That's like me and you arguing over filing taxes," ujar Brooks.

Ia mengibaratkan persoalan ini dengan kepatuhan pembayaran pajak dasar.

"I have a much bigger problem with those that aren't even filing taxes. Let's stop that first. If we can't even get to that base" kata Brooks.

Di sisi lain, Chief Executive CSC Bryan Seeley membenarkan adanya kepanikan di tingkat universitas akibat jaminan NIL yang melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

"A lot of schools, it appears, made a lot of NIL guarantees coming out of the football transfer portal and basketball transfer portal that they're not allowed to do under the rules," kata Seeley.

Tekanan berat kini berada pada pihak sekolah untuk segera menyelesaikan verifikasi kontrak-kontrak tersebut.

"And now there is increasing pressure on them to get those NIL deals cleared. A lot of those NIL deals will not go cleared because they don't comply with the rules," ujar Seeley.

Di tengah situasi ketidakpastian ini, pelatih Missouri Eliah Drinkwitz mengkritik dinamika perubahan regulasi olahraga kampus yang berjalan terlalu cepat tanpa arah tetap.

“We are constantly changing,” kata Drinkwitz.

Menurutnya, ritme kompetisi menjadi terganggu karena semua pihak hanya berorientasi pada tren jangka pendek.

“We are not allowing anything to stick or get into a rhythm in college football. It feels like we’re always chasing the next,” ujar Drinkwitz.

Proses legislasi Protect College Sports Act selanjutnya akan menghadapi sejumlah tahapan krusial di Washington, termasuk dengar pendapat komite, masa reses musim panas pada bulan Agustus, serta pelaksanaan pemilu sela mendatang.