Serangan Rusia di Zaporizhzhia Tewaskan 12 Warga Sipil

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sebanyak 12 orang dilaporkan tewas akibat gempuran militer Rusia di kota Zaporizhzhia, Ukraina selatan, pada Selasa (5/5/2026). Serangan mematikan ini terjadi di tengah pengumuman gencatan senjata sepihak oleh Moskow yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari pada akhir pekan ini.

Gubernur regional Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, memberikan konfirmasi mengenai jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut melalui saluran komunikasi resmi. Kejadian ini menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik yang masih terus bergejolak, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Rusia telah merenggut nyawa 12 orang (dalam serangan hari Selasa)," kata gubernur regional Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, di Telegram, dilansir AFP, Rabu (6/5/2026).

Sebelumnya, pihak Moskow telah menetapkan penghentian sementara aktivitas militer secara sepihak untuk memperingati peristiwa sejarah Perang Dunia II. Namun, Rusia juga memberikan ancaman akan meluncurkan rudal ke arah Kyiv apabila pihak Ukraina tidak mematuhi kesepakatan tersebut.

"Sesuai dengan keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, Vladimir Putin, gencatan senjata telah diumumkan mulai 8-9 Mei 2026. Kami berharap pihak Ukraina akan mengikuti," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah unggahan di aplikasi pesan yang didukung negara, MAX, dilansir AFP, Selasa (5/5).

Pemerintah Rusia juga telah mengeluarkan instruksi agar masyarakat sipil di ibu kota Ukraina segera mengosongkan wilayah sebagai antisipasi serangan balasan skala besar. Langkah ini diambil sebagai respons jika terjadi pelanggaran selama masa gencatan senjata yang ditentukan.

Rencana penghentian kontak senjata ini awalnya muncul dari usulan Presiden Vladimir Putin saat berdialog dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan lalu. Pemerintah Ukraina menyatakan masih menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Washington terkait detail tawaran gencatan senjata tersebut.