Setelah Berhasil Mengumpulkan Dana Darurat, Sebaiknya Disimpan atau Diinvestasikan?

Sedang Trending 59 menit yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah berhasil mengumpulkan dana darurat, banyak orang mulai menghadapi pertanyaan berikutnya: apakah uang tersebut sebaiknya tetap disimpan dalam bentuk kas yang mudah diakses, atau diinvestasikan agar menghasilkan imbal hasil lebih tinggi?

Perdebatan ini semakin relevan di tengah kenaikan biaya hidup dan kebutuhan mendesak yang semakin mahal.

Di satu sisi, dana yang hanya disimpan di rekening tabungan dinilai kurang optimal karena pertumbuhannya terbatas.

Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.

Namun di sisi lain, menginvestasikan seluruh dana darurat juga mengandung risiko ketika kebutuhan mendadak muncul saat pasar sedang bergejolak.

Dikutip dari Investopedia, Minggu (31/5/2026), dana darurat tetap menjadi komponen penting dalam perencanaan keuangan karena berfungsi sebagai bantalan saat terjadi kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan tak terduga, atau kebutuhan perbaikan rumah dan kendaraan yang mendesak.

Tanpa dana tersebut, banyak orang terpaksa mengandalkan kartu kredit atau bahkan menarik dana pensiun untuk menutupi kebutuhan mendadak.

Berapa besar dana darurat yang dibutuhkan?

Perencana keuangan sekaligus managing advisor Ashton Thomas Private Wealth, Cary Carbonaro, mengatakan sebagian besar kliennya disarankan memiliki dana darurat yang mampu menggantikan enam bulan pendapatan.

Namun kebutuhan setiap orang bisa berbeda-beda.

Menurut Carbonaro, rumah tangga dengan dua pencari nafkah yang memiliki pekerjaan stabil dapat mempertimbangkan dana darurat setara tiga bulan pengeluaran atau pendapatan.

Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.

Sebaliknya, pekerja mandiri dengan ketergantungan pada satu sumber klien disarankan memiliki cadangan hingga satu tahun pendapatan karena tingkat risikonya lebih tinggi apabila sumber pendapatan tersebut hilang.

Fidelity juga merekomendasikan target dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan pengeluaran pokok.

Akan tetapi, jumlah tersebut dapat meningkat apabila seseorang memiliki pasangan, anak, cicilan rumah, atau menghadapi ketidakpastian pekerjaan yang lebih tinggi.

Selain kondisi pekerjaan, faktor lain yang turut memengaruhi kebutuhan dana darurat adalah usia aset yang dimiliki. Semakin tua rumah atau kendaraan, semakin besar kemungkinan muncul biaya perbaikan yang tidak terduga.

Faktor usia individu juga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mereka yang mendekati masa pensiun.

Aaron Ulrich, fiduciary dan pemilik Integra Financial Planning, mengatakan kelompok usia 60 hingga 70 tahun cenderung lebih membutuhkan dana tunai yang tersedia dibandingkan mengejar imbal hasil tambahan dari investasi.

"Sebagian besar klien saya berusia 60-an dan 70-an. Untuk kelompok tersebut, saya benar-benar akan mengatakan untuk menyisihkan uang tunai," tutur Ulrich.

Godaan menginvestasikan seluruh dana darurat

Keinginan menginvestasikan dana darurat muncul karena adanya peluang memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan menyimpan uang di rekening tabungan biasa.

Dalam jangka panjang, pasar saham secara historis menghasilkan pengembalian rata-rata sekitar 10 persen per tahun.

Namun keuntungan tersebut datang bersama risiko fluktuasi harga yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan nilai investasi turun.

Carbonaro menilai menginvestasikan seluruh dana darurat merupakan langkah yang terlalu berisiko.

Menurut dia, fungsi utama dana darurat bukan untuk mengejar keuntungan, melainkan memastikan uang tersedia kapan pun dibutuhkan.

Ia mengingatkan kondisi krisis yang menyebabkan pasar keuangan mengalami penurunan tajam. Jika seseorang membutuhkan uang pada saat yang sama ketika nilai investasinya jatuh, maka kerugian tersebut akan terealisasi saat aset dijual.

"Intinya adalah, (dana darurat) harus berupa likuid. Harus mudah diakses, dan harus aman," terang dia.

Likuiditas menjadi faktor utama dalam dana darurat. Dana tersebut harus dapat dicairkan dengan cepat tanpa risiko kehilangan nilai yang signifikan.

Karena itu, banyak perencana keuangan lebih memilih instrumen yang relatif aman dan mudah diakses dibandingkan instrumen berisiko tinggi.

Risiko mengandalkan kartu kredit saat kondisi darurat

Sebagian orang beranggapan dana darurat tidak perlu terlalu besar karena keadaan mendesak masih bisa ditangani menggunakan kartu kredit.

Namun pendekatan ini dinilai berisiko, terutama ketika biaya pinjaman jauh lebih tinggi dibandingkan potensi keuntungan investasi.

Apabila seseorang terpaksa menggunakan kartu kredit untuk membayar kebutuhan darurat, biaya bunga yang harus ditanggung berpotensi lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari investasi dana darurat tersebut.

Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) juga menilai keberadaan dana darurat dapat membantu masyarakat menghindari ketergantungan pada utang ketika menghadapi guncangan keuangan.

Tanpa tabungan darurat, pengeluaran mendadak berisiko berkembang menjadi beban utang jangka panjang yang lebih sulit dilunasi.

Manfaat psikologis menyimpan dana darurat dalam bentuk uang tunai

Selain fungsi finansial, dana darurat juga memberikan manfaat psikologis bagi pemiliknya.

Ulrich mengatakan investor yang memiliki cadangan dana tunai cenderung lebih tenang saat pasar mengalami volatilitas. Mereka tidak merasa terpaksa menjual investasi dalam kondisi rugi hanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

"Anda terlindungi, Anda lebih nyaman, Anda lebih percaya diri. Anda tidak terlalu merasakannya ketika pasar sedang bergejolak," papar dia.

Keberadaan dana tunai juga membantu investor mempertahankan strategi investasi jangka panjang tanpa terganggu oleh kebutuhan mendesak yang muncul di tengah perjalanan.

Temuan lain yang dikutip MarketWatch menunjukkan, bahkan memiliki dana darurat semisal Rp 35 juta saja sudah dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan diri finansial seseorang secara signifikan.

Dana tersebut memang belum cukup untuk menggantikan penghasilan selama beberapa bulan, tetapi mampu membantu menghadapi berbagai pengeluaran mendadak yang umum terjadi.

Di mana sebaiknya dana darurat disimpan?

Carbonaro dan Ulrich sama-sama menyarankan agar dana darurat ditempatkan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan, seperti rekening tabungan berbunga tinggi.

Instrumen tersebut memungkinkan uang tetap menghasilkan bunga sambil mempertahankan akses yang cepat ketika dibutuhkan.

Fidelity juga menilai dana darurat idealnya ditempatkan pada rekening yang likuid dan terpisah dari rekening transaksi sehari-hari.

Pemisahan ini membantu mengurangi godaan untuk menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan non-darurat.

Rekening tabungan, rekening giro, rekening pasar uang, maupun reksa dana pasar uang merupakan beberapa pilihan yang umum digunakan untuk menyimpan dana darurat karena memberikan keseimbangan antara keamanan dan kemudahan akses.

Sementara itu, dana yang akan digunakan dalam jangka pendek, seperti membeli kendaraan dalam satu tahun ke depan atau uang muka rumah, juga disarankan tidak ditempatkan di pasar saham karena risiko penurunan nilai ketika dana tersebut dibutuhkan.

Meski demikian, Ulrich tidak sepenuhnya menolak gagasan menginvestasikan sebagian dana darurat.

Menurut dia, strategi tersebut dapat dilakukan apabila seseorang memahami seluruh risiko, konsekuensi pajak, serta memiliki rencana yang jelas mengenai sumber dana yang akan digunakan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Menurut Ulrich, kunci utamanya adalah disiplin dan perencanaan yang matang sebelum memutuskan mengalihkan dana darurat ke instrumen investasi.

Pada akhirnya, perdebatan antara menyimpan dana darurat dalam bentuk kas atau menginvestasikannya tidak memiliki jawaban yang sama untuk semua orang.

Besaran cadangan dana, kondisi pekerjaan, usia, hingga tanggungan keluarga menjadi faktor yang menentukan.

Namun, para perencana keuangan sepakat bahwa fungsi utama dana darurat adalah memastikan uang tersedia saat dibutuhkan, bukan semata-mata mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.