Pagi hari sering dimulai dengan keputusan yang tampak sederhana: berangkat, atau tinggal.
Namun bagi banyak perempuan, terutama ibu yang bekerja, itu tidak pernah benar-benar sesederhana memilih. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda, dan ada ritme hidup yang menuntut semuanya berjalan bersamaan.
Di tengah langkah yang terburu-buru, sering ada satu hal yang ikut dibawa diam-diam: rasa bersalah karena meninggalkan anak.
Kadang rasa itu terasa kecil, hampir tak terdengar. Tapi di waktu lain, ia datang lebih berat, terutama ketika berita tentang kekerasan terhadap anak terus muncul tanpa jeda. Tentang ruang yang seharusnya aman, tetapi ternyata tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Tentang tempat yang sebelumnya dianggap biasa, lalu mendadak terasa mengandung kemungkinan buruk.
Kewaspadaan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Sejak itu, banyak perempuan mulai menjalani hari dengan bentuk kewaspadaan baru.
Bukan hanya memastikan bekal anak sudah dibawa, pesan sudah dibalas, atau pekerjaan siap diselesaikan. Ada pekerjaan lain yang lebih sunyi dan melelahkan: menjaga pikiran tetap tenang di tengah kecemasan yang terus bergerak.
Inilah beban yang sering tidak terlihat dalam kehidupan perempuan: mental load yang tidak pernah benar-benar selesai. Perempuan tidak hanya dituntut hadir secara fisik dalam pekerjaan dan keluarga, tetapi juga memikul tanggung jawab emosional untuk terus mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Kita hidup dalam situasi di mana perempuan sering dipaksa menjadi “manajer rasa aman” bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang ia cintai.
Ketika Rasa Aman Menjadi Beban Personal
Maka keputusan menitipkan anak ke day care, sekolah, atau pengasuh bukan lagi sekadar urusan praktis. Ia berubah menjadi latihan mempercayai sistem sosial. Dan ketika ada kasus kekerasan atau pengabaian terungkap, yang runtuh bukan hanya kepercayaan pada satu tempat, tetapi juga rasa aman yang selama ini dibangun perlahan.
Yang melelahkan sering kali bukan hanya peristiwa itu sendiri, melainkan bagaimana perempuan tetap dituntut terlihat tenang setelahnya. Tetap bekerja profesional, tetap hadir sebagai ibu yang sabar, sambil diam-diam membawa kewaspadaan ke mana pun pergi.
Ada paradoks yang jarang dibicarakan: masyarakat berharap perempuan tetap produktif dan tidak “terlalu cemas”, tetapi pada saat yang sama realitas sosial terus memberi alasan untuk khawatir.
Ruang untuk Tidak Selalu Berjaga
Akhirnya, banyak perempuan belajar hidup dengan lapisan-lapisan pertimbangan yang tidak terlihat. Mengatur ulang rasa tenang setiap hari. Menyesuaikan batas percaya. Menghitung risiko bahkan dalam keputusan yang paling rutin.
Dan mungkin, yang paling dibutuhkan perempuan hari ini bukan sekadar nasihat untuk lebih kuat atau lebih tenang, melainkan ruang sosial yang benar-benar memungkinkan mereka merasa aman tanpa harus terus-menerus berjaga.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·