Shell Indonesia Kembali Jual Solar Pasokan Pertamina

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Jaringan SPBU Shell Indonesia kembali memasarkan bahan bakar diesel mulai Mei 2026 setelah memperoleh pasokan dari Pertamina melalui fasilitasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah ini dilakukan untuk mengatasi kelangkaan stok solar yang sempat dialami Shell sejak awal tahun 2026.

Ketersediaan produk Shell V-Power Diesel diumumkan secara resmi pada 9 Mei 2026 dengan harga jual Rp30.890 per liter sebagaimana dilansir dari Medcom. Pemulihan distribusi ini merupakan hasil kerja sama strategis antara penyedia jasa SPBU swasta dengan badan usaha milik negara guna menormalkan layanan bagi konsumen.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memberikan penegasan mengenai peran pemerintah dalam menjembatani kebutuhan stok energi tersebut. Pihaknya memastikan bahwa koordinasi dilakukan agar krisis distribusi di sektor swasta dapat teratasi sepenuhnya.

"Itu adalah kerja sama dengan Pertamina yang kemarin sudah kami gagas, kami fasilitasi," ujar Laode.

Pemerintah juga mendorong badan usaha swasta lainnya, termasuk bp Indonesia dan Vivo Energy Indonesia, untuk mengikuti langkah serupa dengan menyerap solar produksi dalam negeri. Kebijakan ini mewajibkan seluruh pengelola SPBU swasta menggunakan pasokan dari Pertamina demi memperkuat ketahanan energi nasional.

"Alhamdulillah sekarang sudah ada kerja sama dengan Pertamina untuk bisa mereka mulai lagi," ujar Laode.

Hingga saat ini, proses transisi pasokan masih terus berjalan untuk memastikan seluruh jaringan distribusi swasta dapat terlayani secara merata. Pemerintah menargetkan integrasi pasokan ini dapat mencakup seluruh pemain industri retail bahan bakar di tanah air.

"Sebenarnya kan arah kami nanti seperti itu. Memang belum semuanya, tetapi sudah mulai," kata Laode.

Kewajiban penggunaan solar domestik ini telah dicanangkan sejak Februari 2026 sebagai bagian dari optimalisasi hasil produksi kilang dalam negeri. Pertamina diinstruksikan untuk menyesuaikan spesifikasi dasar bahan bakar dan volume kargo guna memenuhi permintaan spesifik dari masing-masing perusahaan swasta.

Kebijakan integrasi ini berkaitan erat dengan pengoperasian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan yang memiliki kapasitas 360 ribu barel per hari. Proyek strategis di Kalimantan Timur tersebut diproyeksikan mampu menekan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun serta memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional.