Makanan ultra olahan (UPF), seperti sosis hingga nugget, masih ramai dibahas. Pemerintah Indonesia pun tengah mengkaji dan menyerukan pembatasan peredaran dan pemasaran makanan itu yang memang memiliki risiko bahaya bagi kesehatan.
Sejak tahun lalu, istilah Ultra-Processed Food (UPF) ramai dibicarakan. Pasalnya jenis makanan ini pernah ditemukan dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang sebenarnya ditujukkan untuk meningkatkan gizi anak sekolah.
Di sisi lain, baru-baru ini ada insiden menghebohkan terkait produk UPF berupa sosis kemasan. Seorang pelanggan menemukan bahwa sosis kemasan siap saji yang ia beli telah busuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah-masalah tersebut membuat makanan ultra olahan semakin ramai disorot netizen. Sebagian besar orang mungkin sudah paham apa itu makanan ultra olahan dan apa saja jenis-jenisnya. Namun sebagian lainnya mungkin belum sadar akan dampak bahaya makanan tersebut.
Makanan ini memang menjadi pilihan praktis, tetapi penting diingat bahwa makanan ultra olahan telah melalui proses industri panjang dengan menambah berbagai bahan yang tidak sehat dan rendah nutrisi.
Mengonsumsi UPF berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai risiko penyakit bagi anak-anak hingga orang tua.
Terlepas dari polemik tersebut apa yang disebut makanan ultra proses dan dampaknya bagi kesehatan? Dilansir dari beberapa sumber, berikut penjelasannya!
1. Apa itu Ultra-Processed Food?
Sosis dan nugget menjadi makanan ultra proses yang berbahaya. Foto: detikcom / Atiqa Rana
Makanan ultra olahan atau UPF merupakan produk yang diproduksi dengan skala industri besar melalui bebrbagai tahapan pemrosesan kimia dan fisik. Contoh produknya seperti sosis, nugget, kornet, kentang goreng, hingga mie instan.
Makanan ini seringkali mengandung tambahan gula, lemak tidak sehat, garam, pewarna buatan, perasa, dan pengawet. Tambahan tersebut membuat nilai kalorinya bertambah jauh lebih besar dari makanan utuh atau makanan yang diolah minimal.
Konsumsi terlalu sering bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Pengolahan yang kompleks dan penambahan bahan tambahan juga dapat mengurangi kadar gizi asli dan meningkatkan berbagai risiko penyakit, mulai dari jantung, diabates, sampai kanker.
2. Sosis bersifat karsinogenik
sosis merupakan UPF yang bersifat karsinogenik. Foto: detikcom / Atiqa Rana
Salah satu makanan ultra olahan yang digemari banyak orang adalah sosis. Bahkan, sosis kemasan siap makan dengan aneka varian rasa kini bisa ditemukan dengan mudah di minimarket atau supermarket.
Meski praktis dan bisa menghilangkan rasa lapar sesaat, sosis bukanlah pilihan tepat. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin @bgsadikin bersama dokter Gia memberi edukasi terkait makanan tersebut lewat unggahan sebuah video.
Dokter Gia menjelaskan jika olahan daging seperti sosis kemasan tergolong sebagai Ultra-Processed Food. Daging tersebut mungkin terlihat seperti daging asli, tetapi nyatanya daging asli di dalam sosis ini hanya kurang dari 40%.
"Sisanya tambahan ada tepungnya, perasa, pewarna, pengawet, gitu, dan itu sama sekali tidak sehat," jelas dokter Gia.
Menurut dokter Gia, dalam jangka panjang, mengonsumsi makanan ultra olahan seperi sosis termasuk kategori karisnogenik yang dapat mengubah sel normal menjadi sel kanker.
Ketika tubuh terpapar karsiogen, zat tersebut dapat memicu perubahan materi genetik sel serta menganggu siklus pertumbuhan dan pembelahan sel normal. Akibatnya, sel mulai membelah diri tanpa terkontrol dan membentuk massa disebut tumor. Tumor berpotensi menyebar dan berkambang menjadi ganas atau kanker.
3. Sosis dan nugget minim nutrisi
Sejumlah produsen mungkin mengklaim jika produk UPF mereka mengandung nutrisi, seperti vitamin dan mineral. Namun, nutrisi ini sering ditambah zat artifisial yang tidak memberikan manfaat sama seperti makanan utuh.
Makan lebih banyak UPF artinya kemungkinan besar akan makan lebih sedikit makanan utuh yang padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayuran, protein tanpa lemak, dan lain sebagainya. Artinya tubuh juga akan kekurangan nutrisi, seperti serat, asam lemak esensial, dan nutrisi lainnya.
Makanan yang diproses ini juga membuat nutrisi, seperti vitamin, mineral, antioksidan, dan lemak esensialnya menghilang, sehingga tidak sehat untuk otak.
Ahli gizi dan psikolog Chartered, Kimberly Wilson mengungkap kalau tambahan bahan dalam makanan ini memiliki konsekuensi negatif pada metabolisme, kesehatan otak anak-anak, hingga pertumbuhan anak-anak secara keseluruhan.
4. Picu masalah obesitas
Penelitian yang disebutkan situs nutrishopusa.com (22/5) menunjukkan jika konsumsi UPF bisa memicu keinginan makan berlebih. Jika tidak terkontrol, dalam sehari bisa jadi ada tambahan 500 kalori yang akhirnya memicu kenaikan berat badan.
Selain itu, makanan ini cenderung membuat ketagihan, sehingga kamu akan makan lebih banyak dan seiring waktu bisa menyebabkan kenaikan berat badan hingga penyakit metabolik serius.
5. UPF meningkatkan risiko masalah jantung
Olahan daging burger, kentang goreng, hingga kornet juga masuk dalam kategori makanan ultra olahan. Seringkali makanan ini diberikan kepada anak supaya lebih nafsu makan karena rasanya yang nikmat.
Sayangnya bukan mejadi pilihan baik karena makanan tersebut bisa sebabkan masalah jantung. Tekanan darah tinggi membuat jantung harus bekerja ekstra memompa darah ke seluruh tubuh. Seiring waktu dapat memberikan tekanan ekstra pada jantung dan meningkatkan risiko serangan jantung atau gagal jantung.
Untuk orang dewasa, masalah serangan jantung atau stroke mungkin sering dialami. Anak-anak biasanya tidak mengalami hal ini. Namun Dr.Laird mengungkap kalau anak-anak mengonsumsi banyak makanan ultra olahan, bisa jadi mengalami masalah serangan jantung dan stroke lebih awal.
"Beberapa anak kini cenderung mengalami masalah jantung serius jauh lebih awal darpada sebelumnya di usia 30-an dan 40-an," jelasnya.
(aqr/adr)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·