Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim menyatakan bahwa kekuatan destruktif Iran terletak pada kombinasi brilian antara Saturation Attack dan Mosaic Defence. 

“Melalui serangan jenuh, mereka (Iran) membuktikan bahwa kuantitas drone dan rudal yang terkoordinasi dapat membutakan teknologi radar tercanggih sekalipun. Sementara itu, melalui Mosaic Defence, pertahanan tidak lagi bergantung pada pangkalan besar yang rapuh, melainkan tersebar dalam unit-unit kecil yang otonom di sepanjang pesisir dan pulau-pulau terpencil, persis seperti mozaik yang tetap utuh meski satu bagiannya retak,” kata Salim dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026. 

Sambung dia, di sinilah letak relevansi bagi Indonesia: dengan ribuan pulau yang dimiliki. Indonesia adalah "Mozaik Pertahanan" alami. 

“Dengan mengadopsi Hybrid Warfare dan memanfaatkan Proxy War serta kekuatan milisi sipil yang terintegrasi, kita dapat menciptakan pertahanan rakyat semesta yang multidimensional, di mana batas antara laut, darat, dan ruang siber menyatu dalam satu komando perlawanan yang cerdas,” tegasnya.

Lebih jauh, Salim menyebut Iran menerapkan Retaliation Strategy (strategi pembalasan) yang tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga menyerang kepastian ekonomi dan psikologi lawan. Ini adalah perang kognitif di mana setiap tindakan agresi musuh akan dibayar dengan disrupsi total pada jalur logistik mereka. 

“Indonesia, dengan kendali atas Choke Points dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, memiliki posisi tawar yang serupa. Kita harus mampu menunjukkan integritas diplomasi yang didukung oleh taring militer yang nyata; sebuah pesan bahwa persahabatan kita adalah kehormatan, namun gangguan terhadap kedaulatan kita adalah bencana bagi stabilitas global,” jelasnya. 

“Kita petik api inspirasi dari keteguhan ini untuk membangkitkan martabat bangsa kepulauan RI. Kita bukan lagi bangsa yang sekadar menjaga garis pantai, melainkan bangsa yang menguasai takdir samudra. Jadikanlah setiap pulau sebagai benteng, setiap nelayan sebagai mata-mata kedaulatan, dan setiap prajurit sebagai peretas yang tangguh di ruang digital,” tambah Salim. 

Kandidat doktor di Universitas Airlangga ini mengungkap inspirasi dari Hormuz mengajarkan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dengan strategi yang adaptif dan ideologi yang menghujam bumi, kekuatan hegemoni sehebat apa pun akan luruh. 

“Bangsa Indonesia seharusnya tak hanya berani bermimpi, tetapi berani bertempur dengan kecerdasan yang melampaui zaman. Di laut kita jaya, di laut kita berkuasa, dan di laut pula kita tunjukkan bahwa kedaulatan Indonesia adalah harga mati yang takkan pernah bisa ditawar oleh arus sejarah mana pun,” tegasnya lagi.

Masih kata Salim, dunia maritim tahun 2026 menjadi saksi sejarah atas tumbangnya supremasi absolut doktrin Sea Power warisan RADM Alfred Thayer Mahan. Teori yang selama seabad lebih menjadi kitab suci kejayaan Amerika Serikat, menekankan pada penguasaan samudera melalui armada kapal induk raksasa. Kini tampak rapuh di hadapan inovasi asimetris Iran, di Selat Hormuz. 

“Menggunakan ribuan drone bawah air dan rudal pesisir yang tersembunyi, Iran memaksa aset-aset laut tercanggih dunia untuk mundur, membuktikan bahwa kapal perang berharga miliaran Dolar bisa dilumpuhkan oleh teknologi yang jauh lebih murah namun dikelola dengan kecerdasan kolektif,” tutur Salim. 

“Iran tidak hanya memainkan Fleet in Being untuk menebar ancaman psikologis yang konstan, tetapi juga melakukan Blockade efektif yang memutus urat nadi energi dunia, menciptakan krisis global yang memaksa lawan bertekuk lutut di meja diplomasi,” tandasnya. rmol news logo article