Jakarta (ANTARA) - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan RI dan juga beberapa pihak lainnya menjalankan Java Wide Leopard Survey (JWLS) yang berhasil mengidentifikasi delapan individu macan tutul Jawa.
"Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia," kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
BCA dan Kemenhut, berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia dalam menjalankan survei konservasi ini. JWLS diterapkan karena keberadaan macan tutul Jawa sebagai spesies endemik Pulau Jawa dinilai semakin berkurang dan berpotensi mempengaruhi stabilitas rantai kehidupan di ekosistem hutan.
Program survei tersebut dilaksanakan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai bentuk dukungan terhadap penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Hera merinci, hingga pertengahan 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya delapan individu macan tutul Jawa yang terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan. Sedangkan, survei tahap kedua masih berlangsung pada 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh.
Program tersebut juga telah melatih 84 peserta dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai guna memperkuat kapasitas pemantauan populasi macan tutul Jawa di habitat alaminya.
Selain itu, sebanyak 16 peserta dilatih dalam teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai yang melibatkan berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Baca juga: BBKSDA bakal translokasi satwa Bandung Zoo ke lembaga konservasi
Baca juga: Gubernur NTB: Konservasi prioritas utama pengelolaan Geopark Rinjani
Sementara itu, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono mengungkapkan habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam kondisi itu, macan tutul Jawa kerap terdorong keluar dari habitat alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga.
Menurut Hariyo, kebutuhan dasar macan tutul Jawa sesungguhnya sederhana, antara lain habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajahnya, serta tetap terhubung antar kawasan.
"Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang," kata Hariyo.
Ia menambahkan keterbatasan data menjadi tantangan lain yang tak kalah penting. Tanpa informasi yang akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran.
Petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Tuangkat, mengatakan dalam kearifan lokal, macan tutul bukanlah ancaman semata, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati.
“Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman," kata Tuangkat.
"Kuncinya sederhana jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu,” tambah Tuangkat.
Baca juga: Studi temukan migrasi hiu paus lintasi 13 negara dan wilayah laut
Baca juga: KBS pinjamkan komodo untuk program konservasi pengembangbiakan
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·