Pemerintah Taiwan menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap potensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan konsesi kepada China terkait status pulau tersebut saat bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Dilansir dari Bloombergtechnoz, Taipei kini berupaya keras mencegah skenario tersebut terjadi.
Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu menegaskan posisi pemerintahannya dalam menghadapi pertemuan puncak tersebut. Taiwan menganggap agenda pembicaraan antara dua pemimpin negara besar itu berisiko mengabaikan kedaulatan mereka sebagai wilayah demokratis.
"Apa yang paling kami khawatirkan adalah Taiwan dijadikan bagian dari agenda pembicaraan antara Xi Jinping dan Presiden Trump," kata Francois Wu, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan.
Wu menjelaskan bahwa posisi Taiwan saat ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para diplomat di Taipei. Penegasan ini muncul setelah jadwal pertemuan diundur dari akhir Maret akibat ketegangan di Iran.
"Kami khawatir, dan kami perlu mencegah hal itu terjadi," kata Francois Wu, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan.
Saat dikonfirmasi mengenai kepastian sikap Washington terhadap status kebijakan mereka, Wu mengakui adanya ketidakpastian dalam dinamika politik tersebut. Hingga kini, AS masih memegang kebijakan "Satu China" tanpa memperjelas posisi hukum Taiwan.
"Tidak ada yang 100% pasti," kata Francois Wu, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan.
Meski demikian, Wu menyebut sektor investasi dan industri semikonduktor menjadi faktor penguat posisi Taiwan di mata AS. Ia optimis bahwa ketergantungan ekonomi ini akan meminimalisir risiko politik.
"Semakin banyak kita berbagi kepentingan nasional yang sama, saya rasa kita akan semakin yakin bahwa kita tidak akan dijadikan bahan tawar-menawar," kata Francois Wu, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan.
Pihak Taipei saat ini merasa memiliki landasan yang cukup kuat untuk mempertahankan posisi mereka. Kerja sama ekonomi yang erat diharapkan menjadi perisai diplomatik.
"Untuk saat ini, kami merasa cukup yakin," kata Francois Wu, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan mengenai hubungannya dengan pemimpin China tersebut. Trump menanggapi masalah penyitaan kapal tanker Iran yang sebelumnya dianggap telah disepakati dengan Beijing.
"I agak terkejut, karena saya memiliki hubungan yang sangat baik dan saya pikir kami sudah memiliki pemahaman dengan Presiden Xi," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump juga merefleksikan bagaimana dinamika konflik global mempengaruhi kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Hal ini merujuk pada komitmen tertulis terkait pasokan senjata ke Iran.
"Tapi tidak apa-apa. Begitulah jalannya perang, bukan?" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·