Temuan Unik Tarsius di Gorontalo, Diduga Hasil Persilangan Dua Spesies

Sedang Trending 1 jam yang lalu

5 Mei 2026 10.01 WIB • 2 menit

Temuan Unik Tarsius di Gorontalo, Diduga Hasil Persilangan Dua Spesies

images info

Temuan Unik Tarsius di Gorontalo, Diduga Hasil Persilangan Dua Spesies


Penelitian terbaru dari tim Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan temuan menarik tentang tarsius di wilayah Gorontalo. Primata kecil ini dikenal sebagai salah satu yang terkecil di dunia, namun memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari tarsius lain di Sulawesi. Populasi yang disebut sebagai tarsius bentuk akustik Labanu ini menarik perhatian karena memiliki pola vokalisasi yang berbeda. Perbedaan suara ini menjadi salah satu petunjuk awal bahwa populasi tersebut mungkin memiliki status yang berbeda dibandingkan spesies tarsius yang sudah dikenal.

Penelitian dilakukan oleh Zuliyanto Zakaria bersama Muhammad Nur Akbar, Magfirahtul Jannah, dan Adam Suduri. Mereka menggunakan pendekatan morfometrik untuk mengukur berbagai bagian tubuh tarsius, serta analisis spasial untuk memahami kondisi habitatnya. Pendekatan ini membantu peneliti membandingkan tarsius Labanu dengan spesies lain secara lebih terukur dan sistematis.

Ciri Fisik Tak Biasa

Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah dugaan bahwa tarsius Labanu merupakan hibrida stabil. Artinya, populasi ini kemungkinan merupakan hasil persilangan antara Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae. Dugaan ini muncul setelah peneliti melakukan pengukuran detail, mulai dari panjang kepala hingga bentuk jumbai ekor yang selama ini digunakan sebagai ciri pembeda antarspesies.

Hasilnya menunjukkan bahwa banyak ciri fisik tarsius Labanu yang tumpang tindih dengan dua spesies tersebut. Ukuran kepala tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, sementara bentuk jumbai ekor juga memiliki kemiripan. Kondisi ini membuat peneliti belum bisa memastikan bahwa tarsius Labanu adalah spesies baru hanya berdasarkan penampilan fisiknya.

Menurut Zuliyanto, analisis morfologi memiliki keterbatasan dalam menentukan status spesies secara pasti. Karena itu, penelitian lanjutan melalui analisis genetik sangat diperlukan. Pemeriksaan DNA akan membantu menjawab apakah populasi ini benar-benar spesies baru atau bagian dari proses hibridisasi yang terjadi secara alami.

Habitat yang Semakin Terbatas

Selain fokus pada ciri fisik, penelitian ini juga mengungkap kondisi habitat tarsius Labanu yang semakin tertekan. Dari seluruh wilayah persebarannya, hanya sekitar 221,8 kilometer persegi yang masih berupa hutan. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 17,6 kilometer persegi hutan telah hilang akibat pembukaan lahan untuk pertanian dan permukiman.

Memang ada pertumbuhan hutan muda, tetapi fungsinya belum sebanding dengan hutan alami. Akibatnya, habitat tarsius menjadi terpisah-pisah. Kondisi ini dapat menghambat pergerakan antar kelompok dan mengurangi peluang pertukaran gen. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko memengaruhi keberlangsungan populasi.

Sebagai primata endemik Sulawesi, tarsius memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama dalam mengendalikan populasi serangga. Ketika habitatnya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tarsius, tetapi juga oleh keseimbangan lingkungan di sekitarnya.

Perlu Riset Lebih Lanjut

Temuan tentang tarsius Labanu membuka peluang baru dalam penelitian keanekaragaman hayati di Indonesia. Namun, statusnya masih belum pasti. Apakah ini spesies baru atau hasil persilangan, semuanya masih menunggu hasil analisis genetik yang sedang direncanakan oleh tim peneliti.

Di sisi lain, kondisi habitat yang terus berkurang menjadi perhatian serius. Peneliti menekankan bahwa perlindungan hutan harus menjadi prioritas. Tanpa habitat yang memadai, penelitian lanjutan akan semakin sulit dilakukan, dan populasi tarsius bisa terancam.

Temuan ini bukan hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga relevan untuk kebijakan konservasi. Informasi yang lebih lengkap tentang tarsius Labanu diharapkan dapat mendukung langkah perlindungan yang lebih tepat, sehingga keanekaragaman hayati di Sulawesi tetap terjaga.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini